Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Kamis, 20 Oktober 2016

Pada Suatu Waktu yang Sleman Sekali

Pada Suatu Waktu yang Sleman Sekali


Ilham Jayakesuma, Maman, Ahmad Kurniawan. Fallah Johnson, kamu tahu itu. Mereka akan siap menggempur Oyedepo dalam kepalamu yang kecil seperti kaki Fatecha Ojeda.


Persita mengulang lawatannya minggu lalu. Kaki-kaki yang sama. Gerakan-gerakan rapi yang hidup lagi, memberi kesulitan buat pemain-pemain Sleman satu dekade lebih setelah liga bank mandiri. Egi Melgiansyah, kamu tahu.. masih Egi yang dulu, dia grown up dan lebih matang dalam kontrol dan umpan. Jalwandi, sayap kanan modern dengan tampilan trendi yang hampir-hampir Kaukasian. Aku memandangnya di sebelahmu, dari tribun merah dengan gudang garam ecer berharap tidak segera turun hujan. Aku masih superstitious dan berlagak pawang.


Apakah ini cinta yang murah? atau ini perayaan yang mahal?


Seluruh tribun tidak pernah gelap tapi gemerlap seperti tahun ini. Penuh dengan syal dan lampu-lampu cellphone pegawai-pegawai lelah menolak Senin. Ini masih Minggu, bukan? dan dalam hati mereka sudah terbit segala macam capek, atau mungkin saja inilah blues mereka. Yang melepas gundah sebal marah-marah bos menjadi semacam suguhan piano Ray Charles.


Kito !!! dan gol Kito pemiarsaaa!


Di situlah. Di situlah letaknya Suatu Waktu yang Sleman Sekali. Pada lelah yang dilebur gol. Kali ini Kito. Wasit menahan detik akhir dan seantero stadion ingin mempercepat kesudahannya dengan peluit buatan bibir bawah yang dicekungkan.


Satu rokok lagi. Aku naik ke teralis besi dan siap menyambut peluit !


Sit ! prit! asu cepet !


Priiiiiiiit....!!!!!!



2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar