Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Sabtu, 23 Juli 2016

Minggu yang Mengesankan

Minggu yang Mengesankan


Itu adalah penalti yang cepat sekali terjadi dan tanpa siaran ulang, tentu saja. Saya menyaksikan itu dari tribun biru agak bawah, Anda bisa bayangkan ada teralis besi yang membuat pandangan saya terhadap  lapangan tidak begitu utuh. Banyak orang di kiri kanan saya bertempik sorak dengan muka ragu namun tetap melakukannya sambil sesekali bertanya, "kuwi mau tibane kenapa, ta?"


Kegembiraan, Anda tahu, bisa saja lahir dengan tiba-tiba. Seringkali dilengkapi dengan alasan-alasan yang kuat. Anda bisa saja tersenyum dan tiba-tiba merasa mules mengetahui ada pesan Whatsapp masuk dari cemceman masa kanak tepat delapan menit sebelum jam makan siang kantor. Atau, dengan harap yang teramat Anda datang ke Stasiun Kutoarjo mencari tiket Pramex yang sudah pasti habis tapi mendadak ada orang yang membatalkan diri setelah ada kabar istrinya selingkuh dengan tukang ledeng. Kejutan yang berpihak pada kita acap menyegarkan. Termasuk penalti buat tim yang kita gandrung.


Kapten Isnan Ali sesekali memandang ke arah barat, melempar matanya tajam-tajam ke arah penonton tribun yang sedang galak. Ia memutuskan untuk melawan wasit, perangkat pertandingan lain juga tampak kerepotan. Beberapa rekan Isnan memilih tiduran di atas rumput sambil menepuk-nepuk bokong. Teriakan 'huuu' menggema di mana-mana. Asu! Bajingan kowe yaa! segala serapah yang dibikin-bikin sambil sesekali ketawa keras pada orang di kiri kanan makin melengkapi sandiwara. Betapa drama sepakbola begitu menarik. Pada situasi semacam itu, saya ikut ketawa dan menelurkan pisuh-pisuh wagu juga. Saya sadar bahwa ini sungguh teatrikal dan langsung mengingatkan saya pada kelas bahasa di sekolah menengah dulu, maka saya memilih rehat dan memesan tahu segitiga sama sisi. Asu! Bajingan kowe! delok bismu ra iso bali... Itu adalah ancaman retoris paling basi di sepakbola Indonesia. Beberapa orangtua mencoba melempar kebajikan dengan menenangkan para muda yang beraksi dengan sikap terbaik mereka. Hahaha..


Waktu terhenti sejenak di situ. Saya menandaskan kudapan dan segera membuka handphone, mencatat segala yang saya anggap menarik. Akhirnya Isnan Ali dan rekan mau main lagi. Dicky Prayoga mengambil penalti itu, dan tentu saja masuk. Saya ikut meloncat dengan tingkat kegirangan 72% saja. Sempat juga ada letupan kagum dari penonton sekitar saya, "asem apik tenan ndes.."


Amboi.. bathin saya.


Ada anak kecil umur sekitar tujuh tahun dengan badan bongsor menyanyikan yel sayup-sayup, iramanya mlengse dan temponya tak begitu pas. Betapa menambah keintiman laga itu.


Penalti ini saya kira justru mantap dan perlu terjadi. Saya menemukan keistimewaannya justru di tengah-tengah laga. Tanpa penalti ini, mungkin PSS malah berhasrat menyerang dan bisa menyarangkan lebih banyak gol. Menang banyak di Maguwo begitu lumrah, apalagi dengan skuat yang mentereng. Namun penalti ini membuat permainan seimbang. Sebab setelah penalti itu, PSS hampir tidak pernah melancarkan serangan berarti, segala skema baik menyerang dan bertahan terkesan so-so saja sampai turun minum.  Di awal-awal babak kedua, malahan Martapura berhasil memanfaatkan perpaduan renyah antara rendah gairah PSS setelah unggul dan yel-yel pop tempo lambat dengan mencetak satu gol. Satu gol serangan balik yang menerbitkan pertanyaan sekaligus pernyataan 'Lha, Asu (?)'. Serangan balik B aja yang memaksa bek kiri Sleman menandukkan bola crossing ke tiang gawang sendiri, skema yang sungguh klentruk dan nglokro sekali tapi tetap menghasilkan angka.


Setelah posisi imbang ini yang saya ingat hanya upaya. PSS punya usaha yang lebih dari sebelumnya, seumpama moment path, PSS justru baru saja awake in Maguwo 27 derajat celcius dan sedikit gloomy setelah kemasukan gol. Astaga..


Saya menyaksikan dengan gemas sampai pergantian pemain terakhir. Jodi masuk. Alur permainan jadi lebih menegangkan, banyak pemain Martapura memperlambat waktu dengan jatuh dan mengerang, menutup wajah sambil berguling ke kiri dan ke kanan. Barangkali di dalam wajah yang ditutupi jari jemari itu mereka melet-melet dan membayangkan pesta macam apa yang mungkin dibikin sekiranya berhasil bawa pulang satu poin.


Hmm.. malah tambahan waktu empat menit. Sejak itu yang saya ingat hanya debar.


Sepakan pojok berulang hadir.. sampai akhirnya kami berteriak sekeras-kerasnya. Segembira-gembiranya ! Poin 3! ahahahaha.  Busari si anak hilang yang telah kembali itu menyegarkan setiap surup hati semua saja yang hadir. Saya menguyel-uyel kepala Tommy legenda basket De Britto yang mesti kembali ke Jakarta esoknya, "Bodo tenan kowe tom, ning Jakarta ra ono ngene iki!"


Bal tengah segera diambil. Oh.. tentu saja wasit segera meniup peluit panjang. Seluruh isi stadion segera menyanyikan tembang 'Kasian datang di Sleman' yang mungkin menambah asam pahit hati Martapura FC.


Ehehe.. Saya kira itulah mewahnya datang menyaksikan balbalan ketika hidup sedang datar-datar saja. Tiada yang lebih nyenengke selain memastikan kemenangan di menit pungkasan. Mood saya segera berubah. Meski macet melanda pulang, tapi tak sedikit pun hati saya ragu merayakannya di tengkleng gajah! ah..


Minggu yang mengesankan.

Mini Drawing "On the Soccer Field" karya Labdo Grahito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar