Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Selasa, 24 Mei 2016

Ad Maiorem PSS Gloriam, Orbituari Buat Stanislaus Gandhang

Ad Maiorem PSS Gloriam, Orbituari Buat Stanislaus Gandhang


Tentang menghidupi hidup, menurut Milan kundera kata kuncinya adalah sanggup. Sanggup melihat, sanggup mendengar, bisa minum, bisa makan, bisa pipis, bisa boker, bisa menyelam menikmati segarnya air kemudian memandang langitan yang luas, bisa tertawa dan mampu menangis.


Berbahagialah Gandhang, ia sudah melampaui definisi-definisi tersebut. Saya mendengar berita wafatnya, dari house mate sesama pandemen Super Elja yang asal Kaliurang. Dimas namanya. Ia sedang bekerja di Dunkin Donuts tapi sempat saja mengabari. Padahal dari belahan bumi yang jauh, kabar baru kepada kami mestinya lamat-lamat sampai. Dengan sepucuk rasa penasaran, saya cari tahu lewat berita-berita instan di kolom search twitter. Hasilnya tidak banyak. Namun ada rasa sedih yang langsung waktu tahu itu. Oleh sebab hal-hal yang terkait dengan sepakbola, lagi-lagi korban jatuh.


Tanpa jeda yang lama, akun sleman football di twitter memberi tanggapan yang sungguh meleramkan. Di zaman ketika PSS sudah siap dibawa maju, tanggapan mereka betul-betul membikin PSS dan kelompok suporternya tidak tampak mundur. Dengan mengutip Gandhi, mereka menyebar kesabaran kepada banyak orang yang mungkin saja sedang berkobar-kobar nyala dendam, “Jika sebuah mata harus dibalas dengan sebuah mata, hanya akan membuat seluruh dunia ini buta.” Betapa saya langsung ingat Bernie Sanders, calon presiden Amerika dari partai Demokrat memberi sebuah statement mengagumkan dalam salah satu wawancara tv. Dalam wawancara itu, ia mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu sebagai manungsa, semua orang sebetulnya peduli pada orang lain. Jika saya melihat Anda atau anak Anda terluka, saya akan terluka juga, begitu pasti sebaliknya. Kita akan mudah tersentuh melihat kaum papa yang sedang kelaparan atau tuna wisma yang kedinginan. Namun ada banyak titik yang mengaburkan itu semua. Dalam sekejap kita bisa membangun ‘psyche’ yang menuntun kita pada ketidakpedulian semacam ‘aku tak perlu khawatir pada mereka, aku punya masalahku sendiri.’ Emosi yang disurung oleh ego keakuan sering membuat kebaikan-kebaikan luntur. Kadang tanpa bekas.


Ironi memangsa sesama ini tak cuma sekali mampir di sepakbola. Andres Escobar tewas sebab gol bunuh diri begitu melukai hati dua orang fans Mexico pada piala dunia '94 di Amerika. Ia tertembak enam kali di halaman bar. Satu dekade berselang, giliran Ciro Esposito dianggap Santo oleh banyak ultras Napolitan. Ia menghembuskan nafas beberapa minggu setelah lawatan ke Roma melukainya secara serius. Tahun ini, ketika Indonesia sedang bersiap membangun sepakbolanya lagi, Fahreza The Jak muda tewas diduga dianiaya oleh oknum aparat ketika hendak menyaksikan laga tim kecintaannya. Sampai tulisan ini dibikin, kasus wafatnya Stanislus Gandhang juga masih dalam pengusutan. Dirasakan saja, usia keduanya belum genap tujuh belas, O ! Dan sebagai manusia tentu semua kita peduli pula berharap agar kejadian serupa segera mandeg. Sepakbola terlalu pahit bila kesedihan yang dilampirkan lebih dari sebuah rasa kalah. Duka sepakbola seharusnya berhenti di momen-momen kekalahan, tidak perlu diteruskan sampai kehilangan. Apalagi selama-lamanya.


Dalam hampir semua tragedi Yunani kuno, pengorbanan memainkan peran sangat penting bagi sebuah momen kebangkitan (katavasia). Pun pada semua narasi kitab-kitab samawi, sama halnya. Pengorbanan sering menjadi bahan bakar untuk sebuah ironi. Ironi adalah satu momen di mana hal bertolak walik bisa jadi mengejutkan. Hal baik bisa jadi buruk, dan hal buruk bisa terubah bagus. Dalam menuju dewasa, PSS sangat banyak mengalami ironi yang mengandung keduanya. Dari tanpa kalah di kandang tapi tidak juara, berada di zona degradasi tapi tidak turun kasta, penonton sedikit tapi klub bisa terus mlampah, menjadi juara tapi tidak banyak diaku, hampir ke final liga tapi berhenti dengan pahit.


Dan tentu, sebagai sesama penyuka PSS, kukirimkan tulisan ini buat Gandhang Deswara. Dengan penuh harap musibah semacam semogalah tidak terulang di tanah air maupun belahan bumi lain. Requescat in Pace, Stanislaus, beristirahatlah dalam damai. Semoga pengorbananmu tidaklah percuma dan PSS semakin tumbuh besar lantas jaya karenanya. Betapa kaulihat pertandingan melawan Persiba kemarin betul-betul khidmat dan meluruhkan bathin. Banyak orang tahu bahwa sedikit sekali pengorbanan akan berakhir percuma. What a good game you had, and may you Rest in Pride.



Boston,  23 Aprli 2016

Photo Courtesy Bram Amang "Tresno Waranggono"

Photo Courtesy Bram Amang "Tresno Waranggono"

Photo Courtesy Bram Amang "Tresno Waranggono"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar