Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Selasa, 25 Agustus 2015

Yang Masih dan Selalu dari Marcelo

Yang Masih dan Selalu dari Marcelo


Kuambil kaos ijoku,
Kudukung PSSku,
Di depan ada penyerang Marcelo,
Bikin lawan jadi loyo.
Marcelo, Marcelo, Marcelo memang jago
….
..
.


Itulah jelang siang terik di lapangan Kopertis yang bisa kuceritakan padamu. PSS akan bertanding sore itu, dan kami sedang pelajaran Olahraga. Kami mengidungkan lagu-lagu nanti sore sambil bermain sepakbola. “ Aku Marcelo..” kataku. “ Yowis, aku Deca..” kata Jefri yang cengkring. “Oke, aku Anderson…” kata yang lain. Wah, Beno pastilah memilih Coly Misrun.


Mengimitasi mereka tak pernah mengecewakan. Sore itu Mandala begitu hijau, Deca mencetak gol dengan tendangan bebas paling melengkung yang pernah kulihat dari tribun VIP. Tepat dari pinggir kotak penalty sebelah kanan gawang tim sana. Blas! lesat nan tanpa diduga-duga.


Trio Brasil begitu melekat di benakku sampai sekarang, sejak mereka pergi, Striker-striker asing lain mencoba peruntungan mereka. Fatecha Ojeda, Alfredo Vera, para Latinos yang sekilas saja. Wolo begitu lucu dengan dribelnya, Yves Kalamen dengan postur yang komikal, tapi tak satu dari mereka bisa semengkilap Marcelo Braga yang sanggup begitu tenang melepaskan placing di depan gawang lawan setelah lari-menari yang melelahkan. Meliuk-liuk badan melewati beberapa pemain belakang seperti sepakbola adalah laku sehari-hari, menantang kesialan dan jatuh dalam keberhasilan, mencetak kesuksesan sebelum kemudian hilang dikenang- maksudnya, dilupakan.



Nyanyian buat Marcelo itu begitu kudus diingat sekarang, sebab ia telah menjelma cerita yang terus dikisahkan. Bila kau bertanya padaku, striker asing PSS mana yang akan sering kuceritakan pada anakku kelak? Marcelo Braga jawabnya, kemudian lagi Denilson da Silva. Bila Milan Kundera berkata bahwa perjuangan berat seorang manungsa adalah adalah perjuangan melawan sifat melupakan dalam diri, maka perjuangan pendukung PSS adalah menjaga setiap gol yang pernah dirayakan tetap menyala dalam kenang-kenang.


Satu hari seorang kawanku bercerita sayup-sayup padaku dalam satu kesan paitan sengit, bahwa Marcelo pernah disuap. Ia adalah pemain yang haus uang dan ia sebenarnya pemain biasa saja, kontroversial belaka. Aku menggeleng. Aiih, kepadamu biar kuceritakan tentang gol dan perayaan ke arah supporter dan bendera-bendera hijau itu. “Barito degradasi… Barito degradasi..” Suatu kali di tengah kota sana, lagu dengan nada singone dadi kucing ini pernah begitu asyik digemakan. Kami merayakan kesedihan lawan bersama langkah-langkah samba Marcelo, si gempal yang terus digaungkan di ingatan yang sayup-sayup.


Sebegitu mudahnya cap sang legenda tersemat pada dahi seseorang pada hari-hari sekarang. Waktu bahkan tak sanggup menamatkan kisah-kisah legendaris dalam sebuah percakapan panjang di kedai makan. Seabadi apa Marcelo dalam ingatan? Sekekal aku menuliskannya kepadamu, sayang. Menceritakan ulang apa yang kuingat pada kuyup badan kena hujan. Supaya kamu tahu, ia pernah semengesankan itu, menggetarkan penyokong sebelum turun minum, sampai usai laga dan tanda tangan di bahu-bahu kecil yang riang itu.


Eaaak, pemain nomor punggung dua puluh lapan asal Brasil siapaa diaaa… maka kini kamu tahu.



2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar