Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Selasa, 25 Agustus 2015

Remeh-Remeh Kemerdekaan

Remeh-Remeh Kemerdekaan


kisah cinta kita memang tinggal ampas
tapi aku mengusahakannya dengan segala yang kubisa buat
jika kebohongan kauolokkan di mukaku sekitar seribu kali bumi berputar dalam sekian detik
aku tetap tak akan mencumbumu habishabisan
sebab begitulah bunyi mazmur
yang terdengar seperti rintihan
Daud mengerang kepada Tuhan atas nasib pedih yang dia alami. seperti aku tak bisa tak memilihmu sebagai kekasih hati yang paling pahit.


jika bercinta adalah ruang yang kekal
aku memberitahumu satu dua hal
tentang itu dengan kejujuran yang samar dan lamat, cuma buat kauludahi. tapi toh, aku masih saja mampu menulis puisi.


bukankah, sayang, bukankah?
dendam juga yang menggerakkan setiap mesin mobil di macet siang-siang?
bukankah, sayang, bukankah?
dendam juga yang membuncitkan perut perempuan kudus yang akan membesarkan anak sendirian yang serasa asam cuka itu.
hidup, sayang, hidup adalah anak-anak kali yang bermuara pada pertemuan yang lebur.
dan sampai kini, cintamu yang pelit itu masih saja mengagumkan, indah, dan sanggup membikin aku luluh lantah. hiroshima, sayang, lihatlah kota-kota yang lama kena atom. daun pun menjadi abu. sundal-sundal dan laki-laki belang menyatu jadi debu di keramaian yang paling khidmat pada 1945.


tahun 2015. cinta kita belum sama sekali merdeka. dari rasan-rasan dan kesumat yang dipendam. dan kita masih sepasang. cantik, bukan?



Kricak Kidul

2 komentar:

  1. kalo cinta cintaan memang kau jagonya

    BalasHapus
  2. hahaha tapi kalau tikung menikung kau ahlinya 😌

    BalasHapus