Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Selasa, 22 Desember 2015

Jakarta di Desember

 Jakarta di Desember


"mestinya orang jakarta pandai sekali main petak umpet." kau mengatakan ini sambil menyeruput jus tomat dengan gula yang katamu kebanyakan.


di pancoran aku lihat mancur air.
ia mengingatkanku pada maiden flight semua pesawat pertama yang bisa mengantarmu ke tujuan yang masih belum dijelajah. tentu. penerbangan pertama selalulah dapat sambutan paling gegap gempita. itu berlaku bagi apapun. cinta pertama kerap membuat kita gila, buta, segala saja.


maka jangan marah bila aku ingat juga areola di dadamu yang dua manis bak anak kembar, yang kalau kutanya mana yang lebih enak antara es krim coklat atau vanila mereka akan amat bingung.
mungkin seperti itu pula kau dan tahun-tahun di belakang.


setiap pahit kecut seperti pilsener yang kita tenggak dalam panas dalam yang baru saja. tidak ada kesetiaan dalam kemarau yang salah musim. kita menanti itu secara keteteran


" oya? betulkah?" aku ingat kau bertanya apakah ciuman kita bisa lebih hangat seperti mendung di sudirman. kantor-kantor yang menelan jam doa diam-diam.
orang sini mungkin saja pintar juga menata dakon dan mengadu nasib pada dadu ular tangga.
sebab seperti kita kini, celah-celah jiwa mereka kian tertutup dimakan ngengat bernama ruang. dan gejolak-gejolak itu memudar beriring dengan bunyi rembes air dari tritis di sekitaran gambir.


tapi biar saja kita larut dalam kenang. toh kuyakini kau dimanapun sama menikmatinya.


2015




A Pledge of Sosrowijayan

A Pledge of Sosrowijayan


aku mendengus di jalan-jalan, aspal panjang yang riuh oleh pejalan. pejalan yang menghabiskan peluh dengan bersembunyi dari segala pekik di rumah jauh. kalau boleh kubilang, kebohongan apa saja yang melelahkanmu tak akan mungkin membuatku kesah. sebab telah kusaksikan ampas-ampas bathin manusia, yang bermuka dua dan berjejal dengki. bercecer. kebohongan tentang hidup hype yang dibikin runyam. Kendaraan lalu lalang di sepanjang tubuhku. aku tak akan mengutuk ibuku apalagi matahari. doa-doa akan kubawa dalam diam, dalam ucapan yang nihil. Sehingga ketika dengus itu makin mendesah menjadi tangis bayi, kau tak akan membayangkan lagi bagaimana seseorang itu akan hamil. aku adalah jalan dengan umur yang tak lagi kuhitung, seperti wajah-wajah itu pun, sonder kurekam dalam kemuliaan. dalam rekaman yang macam-macam. mungkin saja mendung takkan datang di pecinan, tapi kesedihan tak akan pergi dari situ. kota ini mungkin akan terus tumbuh, dan aku tak mungkin akan menyalahkanmu. menyalak-nyalak seperti piaraan yang itam itu. percayalah.


cinta mungkin akan mempertemukan kita lagi, athens. malam gelap menciptakan bir yang pahit, barangkali burger dengan patty paling sempurna akan membawa ranjang kepada kita. di sana kita akan menempelkan nama-nama negara dari dada sampai rongga-rongga yang membuatmu geli itu. lalu akan kubisikkan satu mantra dalam cerita bacchylides, teriakan yang menggetirkan cinta-cinta sisyphus. aih. narcissus. akan kutempelkan aku dalam dirimu, sampai kau mengerang aku, menjadi aku. Sudah angslup dalam sini, menjadi jalan yang abadi.



08122015

Bersama Wulang Sunu di Sosrowijayan yang lengang dan hujan

Sabtu, 28 November 2015

Pagi Setelah Marah

Pagi Setelah Marah


minggu menyembunyikan angin
pada sisisisi belikat,
dan membisikkan padamu sebuah tempat
di mana bulan-bulan tak bisa menjamah
apalagi puisi yang belum sampai ke matamu, sebelum kauresapkan dalam hatimu yang cepat saja berlalu.


bukankah, jembatan panjang berwarna hijau pupus dalam kartu pos itu terkesan seperti rombeng?
katamu membuatku tercekat. aku ingin lompat ke hari di mana kau masih bisa kubikin geli dengan canda selucu parit kecil. parit yang menyimpan endapan kuah rendang yang langsung membuat isi perutmu kocak.


begitulah cinta ini, sayang. aku menyimpan cemburu dalam diam. meletakkannya di saku baju saja, supaya kau rogoh nanti malam. di dalam situ. di dalam situ. di lampu-lampu. di lampu-lampu.
cukup indah? kalau belum cukup indah biar kukerik bagian tubuh yang lain. punggung yang akan kuloreng macan. cuma supaya angin keluar, dan cinta yang kita damba mengisi kosong ruang ini lagi.


hahaha.. puisi. aku mesti ketawa
atau tidak pada puisi. pada pulisi. pada puisi,



2015


Jumat, 27 November 2015

Novembre 2

Novembre 2


untuk tahun kesekian aku menjumpamu dalam sajak. sajak cekak yang menekak, aih, rima barusan memang keterlaluan. tapi ketahuilah, sungguh, hanya lewat remah kata-kata bisa kuselipkan padamu kangen jumpa. rindu panjang yang sudah susah payah kutabung sejak kita mengucapkan salam pisah. salam pisah yang tak kita ingin meski empat puluh sekian bulan mengetuk-ngetuk minta jumlahnya jangan dilebih-lebihkan.


"biarlah gempa di bathinku mencari ujungnya, Novembre."
kata seseorang pada sebuah mimpi yang cemerlang. dan kita berciuman tak terbuai meski macet begitu jemu pada sisi-sisi kelok kali Frankfurt. tempat yang belum kunjung kusinggahi kecuali dalam cerita yang sering kukarang-karang sendiri. dalam gumam, tentu. kita berciuman di situ. dalam sebuah keroncong kemayoran. bukan blues, bukan. sebab sudah begitu banyak kita rapikan yang tidak pernah terucap.


seperti, contohnya, (selamat ulang tahun)



Studio Batu
11282015


 

Novembre

Novembre


beginilah maksudnya, kau berkecamuk dalam kepalaku
di musim hujan ketika
kambium dalam pohon tua
menyembunyikan umur,


juga kalang kabut paris.
duc in altum.
dosa-dosa kecewa
pun
dirimu pada satu ketika
yang cemas.
( yang salah musim )


biarlah kemudian
kucerita ihwal
cintamu,


yang masih saja panas
dan jarak yang tergesa.


rasanya tepat
melindungi tubuh dari dingin
dan jiwa kesepian
mengenang kau


sedang, meski, kendati
walau, demikianlah-


air takkan berhenti turun
lima menit ke depan
mungkin sejam nanti
dan kau akan berjejal
menjelma


kreta sungsang yang beringsut.



11172015

Dari Studio Batu

Dari Studio Batu


Halo.


kepadamu, biar kuceritakan sanctuary ini dalam komposisi:
mimpi kanak-kanak, omong kosong, doa, serta marah seperlunya. di mata wulang sering kulihat gowongan. Terowongan gelap dan membingungkan. kita pernah di sana, kita sering ke sana. bertandang berkunjung berbagi jam lima sebelum kotabaru membuka liturginya.


dari studio batu pula, kami mendengarkan lagu melly dan mengenang mendung di luar sebagai dunia keras yang barusan takluk. kemudian seni, ia adalah sekian kemungkinan yang baru saja ngendap macam air comberan. seperti kata cinta yang mustahil dapat bahasa atau nylempit dalam lembaran kamus murah meriah. kukira kamu tahu sekali.


sedang sebentar malam datang dengan nama-nama penerbitan, mancing cari penggawean, dan kajon pejalan kulit putih yang kemungkinan besar tak begitu menjajah.
satu lagi, bir dingin yang kepalang larang.


kami menukar duit pada tiap lekuk jalan sosrowijayan yang mulai kami akrabi, lalu kucerita begini padamu lewat matahati. di antara itu orang-orang mengabarkan jokja lewat media sosial, dengan pengikut tanggung dan gambar telur. inilah kotakota di mana bata batu tumbuh serupa nganga mulut bapa tua rajatega.


o di lain tempat.. di kantor-kantor besar rasuna said atawa tower-tower penggerus air, tommy mengintip rok supervisor bulat pepaya yang tabu bicara senggama. jakarta sekeras-kerasnya.


sebelum sebentar the adams akan konser di gawai kami yang malang, kau yang kuceritakan masih belum juga ketemu muka. puisi ini hampir jadi, tunggu sebaris lagi.


(okelah)
rindu seperti memang perlu
berjalan bak tiktik jam dan dengus papipapi.


halo. masih di sana? Novemberku?


2015


Studio Batu kami

Senin, 19 Oktober 2015

Apa yang Dipikirkan Bapak Ibu dari Atas Gedung Tinggi di Pittsburgh

Apa yang Dipikirkan Bapak Ibu dari Atas Gedung Tinggi di Pittsburgh


sudah hampir lima belas tahun
dari kata bijak kuno: hidup dimulai pada umur empat puluh.
dan tak ada yang berkurang dari waktu yang terus maju, kecuali hal-hal yang makin sulit diingat, dan ketakutan-ketakutan yang makin gampang dicecap.


Bapak:
di atas gedung, pittsburgh adalah kepadatan yang lain. kepadatan yang memintal cinta puluhan tahun dengan kesadaran singkat, bahwa cinta itu ada. bahwa ia manis. dan tak ada yang bisa menyelami selain berdua kita di sini. atas nama angin dan lampu-lampu kapal. astaga, kita sudah setinggi ini. dan demi tuhan, aku ingin hidup tiga puluh tahun lagi !


Ibu:
aku menerima matamu bertahun-tahun lalu tanpa bertanya kecuali semuanya sudah langsung terjawab lewat mimpiku di sebuah perempatan yang lengang. ibuku menjahit dan bapakku membaca koran. kakak-kakakku bergantian memijat bapak dan nasi belum ditanak. sore segera gelap dan kau masih tinggal dalam pikiranku hari ini. maka sampai juga kita di sebuah bangunan tinggi di mana bayang-bayang pikiranku pun tak pernah menggapainya. elok. cinta adalah hadiah paling semerbak dari perdebatan-perdebatan rumah bordil. polisi dan kejar mengejar. bumi dan isinya berporos pada waktu yang kau dan aku takkan pernah sanggup membaginya. kau tahu ini.


mungkin demikian yang dipikirkan bapak ibu. angin timur dan keasingan di negeri orang. negeri yang angkuh dan kasar tapi lembut sebab perbedaan hampir tak punya ruang untuk saling kikis.
kepada kesempatan barangkali mereka ucapkan, cheers !


Oktober,
2015 


P.S: May God always grant you two with many years and happiness, Congratulations for the 25th Wedding Anniversary ! 




Komposisi Bahagia

Komposisi Bahagia


sudah berkali kita dengar
tangis itu indah dan perlu


dan tentang satu yang (mungkin) mengantar ruap bahagia: kesedihan


kau perlu tenggelam dan menyesapnya pelan
sedikit pahit dan glamor yang kadang-kadang.
keduanya bersitungging dalam sekali waktu
merangkapkan padamu
segala yang tak perlu kauingat
kendati tetap kauingat juga
sebagai sebuah kepedihan dalam hidupmu yang seperti orbit satelit paling tak punya peran.


kalau boleh memilih, katakanlah
keberuntungan itu kaulepas saja
jadilah orang yang paling bisa dikasihani
sehingga kau tak punya ruang lagi
untuk bersembunyi dan menutup kancing baju, biar manis begitu.


setelahnya, melihat buku lama tanpa jejak baca berserak di kamar yang jarang dibersihkan pun kau akan menangis bahagia. ketawa sejadinya


hahahaha..


Oktober
2015


Fani yang Baik

Fani yang Baik


mestinya kita ke pantai saja
sore ini. meletakkan segala yg mesti kita rebahkan, supaya tak banyak percakapan nirmakna yang panas dan pedih di antara ketaksambungan kita yang barangkali parah.
tapi, oh, kita mestinya saling menggenggam saja
memandangi lokan dan matahari tenggelam. benam dan nanti gelap-
supaya desau angin membuat kita lupa
bahwa selalu ada yang tak setuju di antara apa yang kita bicarakan. supaya pantai makin dingin dan kita menjadi seperti malin.
O! jadi batu dan menangis tanpa sempat ciuman.
bukankah kata-kata sudah terlalu banyak, fani? dan jarak masih saja belum terseberangi. sudah berapa banyak puisi berserak dan bumi tetap begini-begini saja. revolusi itu taik kucing tanpa gerilya hero-hero kesiangan. pertentangan apalagi, dia ngeri sekali. acapkali memotong saja tanaman-tanaman depan rumah yang sudah kita siram dengan kasih.
O !


Aku dan Fani yang Baik :)

Cuma Kadang

Cuma Kadang


dunia berputar tidak searah jarum jam
tidak searah apapun
tidak searah mata bapak
dan segala curiga ibu
yang terkandung pada satu kesan
makan siang yang datar saja


di comberan dan tanah sawah kering
air tak datang seperti
musim tak membawa
kabar dan katup kesal
dikau yang seringkali
pasang muka kecewa


di mana? di gorong gorong atau di atas ranjang?
di mana? di dalam bathin atau dalam usus babi?
di mana? di ketiadaan atau waktu luang yang tak pernah terisi?


kemudian pertanyaan cerewet tersebut
mengabur seperti kucing
mengejar tikus. liar



2015

Kepada V,

Kepada V,


berikan padaku dua bibirmu.
sebab akan kukalap separuhnya
lalu kulepeh setengahnya
seperti sisik ikan palembang
dengan rasa paling tak jelas itu


kemana kau semalam-malam ini?
bertandang membagi tawa dengan
planet-planet yang susah dieja
mengalungkan bossanova paling sedih
dan membaginya dalam remang-remang yang, kurasa, cukup hiperbolik
cuma supaya kau dipuja
digerayangi dan dikenang dengan
ingatan paling apik.


sedang kita tak pernah ketemu
meski dalam sekelebat
umpatan dan ludah keringat
langu. musim libur pun adalah hari-hari berbau sangit,
seperti yang telah kita pikir bersama dalam suatu telepati.


maka lebih baik kuselami saja jiwamu yang lebih luas dari ganymede dan kuketuk pintunya dengan koin-koin pelipur dendam, tak perlu kaubuka pintunya. menangislah di situ saja.

kurasa begitu sudah cukup



2015

Aku Ingin Diam-Diam Melukaimu

Aku Ingin Diam-Diam Melukaimu


dengan lukaku sendiri
dengan serapah dalam jarak ini
supaya aku tak mati
dalam kepalamu,



2015

Rabu, 30 September 2015

Boston Harbor

Boston Harbor


di satu riwayat yang mendung
lengket mata lebih penting
dari kesedihan yang menyerupa
raksasa ganas menjelang maghrib-
genderuwo yang mungkin akan
menyembunyikanmu
sampai nyanyi-bebunyian ditabuh
untuk dirinya yang egosentrik


tanah lembah lembayung.
senjakala begitu dipuja
dalam mitos-mitos murah
sebagai suatu saat yang menyimpan
haru lebih abadi dari kisah
hidupmu sendiri


di gudang-gudang
tali-tali kapal, seperti chairil gambarkan,
boston harbor membuatku sangat dekat.
pada tepi laut yang sunyi-
bisu tapi peka mendengar.
suaramu yang liat, jentik jarimu yang mungil,
bisik-bisik gombal
segenap mata kata yang tajam
darimulah kudapat ilham
untuk menyembunyikan hari ini


seperti genderuwo pemakan ketela itu
burung-burung pulang terbang ke entah
menyeru maghribnya sendiri
sampai kelambu langit runtuh
ganti gelap. ganti diam. terbenam


Brookline,

2014

Jumat, 25 September 2015

Buat Ivit

Buat Ivit


Bons nageurs sont à la fin noyés,
perenang yang baik acapkali tenggelam.


bolehlah adagium aneh ini tak kau pertanyakan,
seperti setiap takdir tepat tanggap- bersicepat dengan waktu.


bintang di langit paling jauh atau juga si fulan di sebuah kelurahan paling mlencit.
semuanya tiada juga dalam ketiadaan paling tak ada. mungkin saja.


manusia kecil karena terbatas, dan besar karena ada kehendak untuk menerima itu.
garis-garis riuh rendah di tepuk tangan orang-orang.
di air mata mama sedunia bersembahyang
dan para hajj mencium hajar aswad.


di situlah jiwa bersemayam, Vit, di tubuh dengan nadi berdetak dan
kerahiman yang sering lebih lembut dari tenun tangan priyayi kyoto.


maka jika malam ini doa pun telah purna, ciumlah papa dengan rendah hati.
sebab Pangeran pun merindunya dengan demikian.


salam, peluk dan, segalanya saja buatmu.



09252015

Kamis, 24 September 2015

About Longing

About Longing


“ And the world's got me dizzy again
You think after 22 years I'd be used to the spin
And it only feels worse when I stay in one place
So I'm always pacing around or walking away “ - Landlocked Blues, Bright Eyes


bahkan setiap butir gula punya pahitnya sendiri
kau tahu, yaitu ketika segala yang manis
tak mampu menahan getir hari mendung
kungkong katak dan pekik alap-alap
gagak, cicak. nyamuk di air yang mengendap


hidup ini rapuh nan mudah koyak.
Sebagaimana amsal-amsal tak perlu.
Kita dipaksa menjadikannya penting.
suaramu siang itu, begitu sumbang


negeri kita pula, seperti katamu,
adalah “ tanah di mana dendam begitu subur.”


khianat selalu nemu jalan
kalau bukan jalan pintas, paling tidak
setapak kecil


di situ urat nadimu bergetar cepat
jantungmu pun, selalu berdetak seperti derap
taptu. ini musim penghujan
tiap tetes turun adalah ketabahan
pada kata-kata “ seolah-olah cinta itu cuma dirimu.”


tapi lagi-lagi kota kita- kota ini
seperti hero yang membenci keluarganya


hercules. hercules anak zeus. katavasia itu.
penaklukkan hades cuma dengan kesungguhan
kepahlawanan tanpa risik haru


: tiap ketidaksempurnaan adalah kekal.


dari Jakarta ke Narita, dari Narita
ke kota-kota di Amerika
kunang-kunang tetap menyala
dalam matamu.
dan kita demikian jauh


Boston

Okt 2014

Brookline, MA 2015

Minggu, 20 September 2015

Why Conor, Just So You Know.

Why Conor, Just So You Know.


Aku bisa mudah saja merasakan ekstase semacam orgasme pertama ketika membaca tulisan dengan grade sangat bagus.


Hmm.. Bukan sayang, bukan, dugaanmu meleset. Kurang tepat.


Bukan Norwegian Wood yang menjadi titik kekomplitan Murakami dalam menulis cerita itu, bukan juga Marquez atau Neruda atau Galeano yang somehow beautifully sad. Bukan Dostoyevsky atau Kafka atau Aquinas yg cenderung spiritual. Namun Conor Oberst, the man himself.. yang sering-sering membikin aku merasakan hal subtil begitu. Barangkali tak patut membandingkan penulis-penulis filsafati yang deeper than the ocean dengan vokalis band. Tapi dia, menurutku, adalah penyair cum filsuf par excellence yang mendaku sebagai cah band.


Dunia adil sekali.. orang hebat bisa kaukenal lewat apa saja. Dari mana saja dan kesempatan sesempit apapun. Tidak banyak yang tahu Conor Oberst di Amerika, apalagi di Indonesia. Aku dengar music Conor dan bandnya Bright Eyes pertama kali adalah First Day of My Life pada sebuah semenit iklan youtube yang tidak bisa diskip. Dan ini bukan usaha untuk menjadi artsy atau edgy atau pun mencuci otak agar kau suka karya-karyanya, sayang. Tidak sama sekali. Kau tak perlu suka dia setelah membaca tulisanku, tapi mungkin kau cuma perlu tahu bahwa ada orang seperti Conor. Orang yang kehadirannya secara khusus bisa mujarab menolongmu dari kemurungan. Conor adalah landasan pacu yang baik untuk landing bagi setiap hubungan yang tak mulus. Kredonya adalah what so easy in the evening by the morning such a drag ! Ternyata di dunia ini yang namanya cinta-cintaan hanyalah urusan esok dele sore tempe. Lagunya, Lua, banyak menenangkanku, bahwa ternyata oiyaya mudah sekali kehilangan itu. Kita akan menjumpa kehilangan dimanapun, sebab diri ini-manusia ada batasnya, kita akan menjadi bagian dari kehilangan juga pada satu ketika. Sebab itulah kita merasa sedih tiap nemu kepergian-perpisahan, bahkan perjumpaan pun sebaiknya perlu kita khawatirkan sekali-sekali. Dan masalah itu menggelombang tanpa kita mohon. And I'm not sure what the trouble was that started all of this, the reasons all have run away but the feeling never did. Begitulah postulat Conor lewat Lua nya yang indah dan semi-gelap.. ah


( Dia justru menciptakannya dari apartemen kawannya di tengah-tengah Manhattan yang tumpah ruah manusianya. Lagu sehening dan sekhidmat itu justru tegak serupa gereja gotik yang gigantik di bathin yang sedang kebanjiran )


Entah juga dengan model channeling apa dia bisa menggarap lagu Laura Laurent dan menyanyikannya di Boston House of Blues dengan bola mata sampai menghilang, tinggal mata putih dan suara parau melengking dan lebih kedengaran seperti tangis. La laa la laa la la.. aksi begitu, kau tahu, akan membikin penonton ikutan trance terhenyak tenggelam dalam lirik you were the saddest song in the shape of a woman. Hahahaduh.


" He looks Happier than ever, Niko," aku mengatakan apa yang kulihat pada kawan seperkonseran. " He did drugs and stuff.." seorang mbak berambut ombre menyamber memberi info tanpa diminta. " Not anymore though.." dia menambahkan seakan-akan memberi penegasan bahwa ia adalah penonton konser yang datang dengan pengetahuan tertentu tentang Mr. Oberst. Belakangan aku tahu dia khusus hadir dari New York, dia merasa terselamatkan dari pikiran hendak bunuh diri lewat lagu Conor Common Knowledge. Lagu yang video klipnya dibikin oleh kawan dekat Conor, David Altobelli, dengan mode hitam putih yang sedikit kejam.


Ketika seseorang pada masa laluku, bisa juga adalah dirimu yang sedang membaca ini, meminta saran lagu untuk didengarkan pada detik kau membaca ini, Coyote Song akan cocok kau dengarkan sambil kaupandang itu batako jalanan kotamu dari jendela atas apartemen kecilmu. Frankfurt? Jamaica? lagu ini akan mengingatkanmu pada paradoks-paradoks tentang jarak. barangkali hari ini brengsek sekali bagimu, sebentar lagi sore; mendung betah menetap daritadi; untung barusan saja hujan reda. pelangi belum tiba. masih ada genangan-genangan kecil di setapak sana. Jerman adalah negeri yang dingin. Amerika adalah sekumpulan kota bebas yang kadang tak tahu diuntung. " Loving you is easy, I can do it in my dream.." katanya.. mimpi adalah jalan pintas paling menyenangkan.


Conor Conor ! ! ! one more song pleaseeeee... tapi dia tetap melenggang pergi, masih banyak konser yang harus dia hadiri. di setiap jiwa rebel yang pilu. haha..


Ada sekitar seratus dua puluh sekian lagu termasuk Time Forgot dan Lime Tree yang belum kuceritakan, padamu. Akan kuceritakan lagu-lagu aduhai lain dari dia di lain waktu. Kini kau bisa tenggelam di karya-karya Conor sendirian dulu.


Begitulah, kuceritakan sedikit saja tentang dia padamu. Supaya kamu tahu.


Sept, 2015








Last Concert I attended in Boston


Pada Sebuah Viewing

Pada Sebuah Viewing


kita sedang berkabung,
selamat jalan Richo.


ini sebuah archade penghabisan
: kotakota mati dan penjara
yang menghijau kena rambatan
benalu dan lumut-lumutan.
lihatlah, lihat, sayang
kemudian kau tak mau beranjak
menyapa dan memilih
menyimpannya dalam
malu-malu


demikianlah cinta lama itu
terkelupas seperti tembok-tembok
kota yang bernanah kena getah
aren yang datang dari entah


via via via !
go go go !
as they say in Italian.


jiwa-jiwa mati
sembilu kena air mata
lembab sebab mendung tak
kunjung jadi hujan


dan kau, lagi-lagi
bisu seperti reffrain lagu panjang
di kuping yang sedang bertingkah sialan.


( go go go!)



Sept 2015


Jumat, 11 September 2015

Semoga Menang di Misano

Semoga Menang di Misano

: Valentino Rossi


siapa berhak jadi santo, don vale?
di dunia yang bohong
dan pongah, dan gemar
menyalip dengan licik.. semua orang tampak bermata picik
bukan. ini bukan tentang
bocah konyol dari palma itu.


tidak demi kartel pemburu rente, pak politik atau banyak penjudi
yang ompong di hadapan
keadilan dan jalan-jalan sempit.
kau legenda, taklukkan trek ini !


di atas motor, kau sendiri
yang mahatahu atas apa yang sedang
pada lurus-kelok ujung-ujung lintasan. kauyakin itu.
" membalap adalah laku yang suci.
bahkan penonton dan komentator dan lawan
tak akan paham persis dosa apa dibalik seorang pebalap jatuh. "
kecuali pebalap dan motornya, dan tuhan dan malaikat terangnya.
astaga.. kita ingat dalam puisi juga:
karibmu simoncelli, mendiang tomizawa


dari jauh sekali
kau tak akan membacanya.
tak akan. kubilang, 1000% tak mungkin puisi ini sampai.
kecuali esok minggu kautaklukkan san marino
kaujauhkan jorge lewat pengalaman dan goyang pinggul.
marc- biarlah ia belajar rendah hati.
baru kita sama tahu betapa puisi
bisa mengubah takdir
lewat kesenyapan paling
tak diketahui. hahaa.. hm


misano tetanggamu. ibiza rumahmu
semua di tavullia menyebutmu
dalam lipat doa kecil di tangan mereka. kauboleh menghitungku.
di milan kota dan separuh lebih itali memujamu.
46% bumi menanti domenica, akhir pekan, sabat dan kemenanganmu.


menanglah besok,
sajak ini menyertaimu. mudah-mudahan.


Kricak Kidul,
Sebelum GP Misano.

2015

Rabu, 09 September 2015

Pidato Pemakaman Dari Sisi Lain

Pidato Pemakaman dari Sisi Lain

Oleh: Alex Karcher


segenap yang mula-mula bakal terakhir mengabur
akan termeterai oleh tembok mulus dan wewangian pinus
aku tetap sabar, sunyi menunggu tanda dari janji tak bertanda
untuk beristirahat dengan sejahtera
pada ranjang sempit berdinding beludru-
singgasana dari hatiku yang paling ungu
sulaman paling manis dengan tenun kain satin
( kau tahu, melawan kemapanan yang pucat telanjang adalah
serangkaian kesia-siaan )


gema dari tahun-tahun yang lewat
juga dari hari ini sendiri, barangkali
segera mengangkat ruh
keluar dari kabut kefanaan
bangkit sebelum mataku, seperti musim- tragedi itu
waktu-waktu tak tertambat biasa berkelana
ke tempat yang tak bisa direngkuh
dikawal sayap-sayap serupa kilat-kilat jauh
bersama serempak sayup-sayup suara surgawi
kekallah kenanganmu


peti mayat paling mengesankan ini
terukir melengkung indah nan mewah
tapi pada akhirnya khidmat juga menembus bahtera bathinku
terisap ke palungan bumi yang jeru
(ah) segala itu tak segagah kemewahannya
tak pula semengesankan dermaganya
fana. fana sekali
niscaya semua sama juga
di hadapan komuni jemaat cacing-cacing tanah.
tak berhenti di sana,
untuk beberapa saat lagi aku pun akan
terbaring geli di situ
tak bisa elak dari induk semua iba: debu
( sebab ini semua makhluk tahu,
karenanya mereka tak bisa berhenti percaya )


terkejutlah daku, tentu
sama seperti cacing-cacing buta tadi, yang menggeluti cahaya-cahaya
hidup dicerna perut bumi.
ketika kulihat diriku di ujung kanal
bergerak tak ke atas tak ke bawah melainkan menuju keluar.
seperti aku berjalan mundur ke arah corong yang melebar
aku bertahan bergantung di dunia terbuka baru yang,  
juga mengabur samar,
melahirkanku kembali secara lembut gemulai
: hadiah paling murni dari pandangan yang ma’rifat
kutahu itu biasa disebut orang sebagai “cinta”
tergores langsung dari kaki lamaku yang compang-camping,
(ah) pita putih bersinar dari jalan-jalan penting di bumi
menuju cahaya kekekalan
menuju kegemilangan dan kebenaran
ke dalam jiwa Tuhan yang Maha Rahim.


2015


PS: Sorry I just translated your super tricky poem in my language after some years of waiting, thanks for your patience hahaha. Happy Birthday, Alex. Ah.. Again, I know that I am late on this as well. In your birthday you are not given a gift, but instead, you are giving some heavenly view to those who read this. Wow, so profound :”) I miss drinking together like the old days, talking crap about crap people and realizing that we are the crap ourselves. God grant you many years, man. Boston is a nice city, it sure will gather us again we don’t know when. Or you will come to my hometown next year? by the way.. I am 10,30% done with my novel 50 Goddard Ave. LOL
Disclaimer: Don’t try to google translate my translation or you will cry in your room like a bald priest.


 
Lager and Words


Selasa, 25 Agustus 2015

Surat Cinta Buat Pacarku pada Sebuah Musim Pancaroba

Surat Cinta Buat Pacarku pada Sebuah Musim Pancaroba


Sayangku,


               Jika kau percaya pada Tuhan, kau barangkali percaya juga bahwa kesedihan dan sedu sedan kita kemarin sudah Ia tentukan jauh sebelum air mata pertamamu jatuh. Air mata pertama itu jatuh ketika di sudut café itu Jar of Hearts-nya Christina Perri diputar. Itu lagu yang cengeng belaka, tapi berkali-kali lebih berkesan ketika kau marah dengan cara marah yang aku tak pernah melihatnya. Tangismu seperti tangis duyung yang kubayangkan sekelebat dalam dongeng di masa kanakku. Tumpah air matamu langsung menetak nyaliku, terlalu ngerinya sehingga aku tak kuat menahan jengkel pada diri sendiri. Puisi, sebagaimana hubungan kita, adalah rangkaian keterlanjuran; dari kesempatan dan ikatan lengang yang dibangun dari lama sekali. Seandainya kita bisa sabar, kita tentu akan sangat menikmati ini, kubayangkan begitu. Namun tidak, sayang, kita tidaklah sekukuh itu. Hubungan kita koyak justru ketika segalanya tampak akan segera baik-baik saja. Kau tahu, aku jarang menyesal. Penyesalan adalah urusan paling gampang ketika segalanya gagal.


               Jerih dan upaya kita begitu samar. tapi setidaknya sekali dalam hidup kita, kita pernah saling menyelamatkan. Dan percayalah, upaya-upaya waktu itu memiliki keindahannya sendiri. Selalu ada ruang kosong untuk cerita yang tidak bisa kubagikan, tapi astaga, kepadamu aku tak pernah sanggup sembunyi. Lewat surat ini, sayangku, aku ingin bicara tak panjang-panjang. Cuma supaya kita sama sadar, bahwa segala yang manis itu memang kadang menyebalkan. Sebagai kawan kita tak pernah begitu peduli pada cinta mana yang kira-kira sanggup membuat kita guyah. Sebagai pecinta, kita untuk pertama kali merasakan kerumitan yang susah diurai. Namun sebagai laki-laki dalam surat ini, aku ingin mengatakan rindu yang selalu ada buatmu. Rindu yang kupendam dalam dua bulan paling panjang dalam setahun ini, bulan ketika segala percik cemburu begitu cepat meranggas remah filsafatmu yang lugu. Semoga musim buruk segera berlalu, dan sisa anginnya menerbangkan wajah kita jadi montase. Sampai kita berkerut, dan kisut, dan tetap saling bisu. Sampai istana di mimpimimpi kita jadi. Sampai kita sanggup mengetawai naskah drama ini. Sampai diriku terdampar di dadamu pada suatu malam yang tak akan dua kita lupa. Sampai anak-anak kita berlarian mengitari kita yang sedang bertukar masa susah. Sampai kita sanggup menertawakan hal-hal kecil. Okie dokie, believe me not. Aku sungguh mencintaimu.


Salam,

Pacarmu 


Yang Masih dan Selalu dari Marcelo

Yang Masih dan Selalu dari Marcelo


Kuambil kaos ijoku,
Kudukung PSSku,
Di depan ada penyerang Marcelo,
Bikin lawan jadi loyo.
Marcelo, Marcelo, Marcelo memang jago
….
..
.


Itulah jelang siang terik di lapangan Kopertis yang bisa kuceritakan padamu. PSS akan bertanding sore itu, dan kami sedang pelajaran Olahraga. Kami mengidungkan lagu-lagu nanti sore sambil bermain sepakbola. “ Aku Marcelo..” kataku. “ Yowis, aku Deca..” kata Jefri yang cengkring. “Oke, aku Anderson…” kata yang lain. Wah, Beno pastilah memilih Coly Misrun.


Mengimitasi mereka tak pernah mengecewakan. Sore itu Mandala begitu hijau, Deca mencetak gol dengan tendangan bebas paling melengkung yang pernah kulihat dari tribun VIP. Tepat dari pinggir kotak penalty sebelah kanan gawang tim sana. Blas! lesat nan tanpa diduga-duga.


Trio Brasil begitu melekat di benakku sampai sekarang, sejak mereka pergi, Striker-striker asing lain mencoba peruntungan mereka. Fatecha Ojeda, Alfredo Vera, para Latinos yang sekilas saja. Wolo begitu lucu dengan dribelnya, Yves Kalamen dengan postur yang komikal, tapi tak satu dari mereka bisa semengkilap Marcelo Braga yang sanggup begitu tenang melepaskan placing di depan gawang lawan setelah lari-menari yang melelahkan. Meliuk-liuk badan melewati beberapa pemain belakang seperti sepakbola adalah laku sehari-hari, menantang kesialan dan jatuh dalam keberhasilan, mencetak kesuksesan sebelum kemudian hilang dikenang- maksudnya, dilupakan.



Nyanyian buat Marcelo itu begitu kudus diingat sekarang, sebab ia telah menjelma cerita yang terus dikisahkan. Bila kau bertanya padaku, striker asing PSS mana yang akan sering kuceritakan pada anakku kelak? Marcelo Braga jawabnya, kemudian lagi Denilson da Silva. Bila Milan Kundera berkata bahwa perjuangan berat seorang manungsa adalah adalah perjuangan melawan sifat melupakan dalam diri, maka perjuangan pendukung PSS adalah menjaga setiap gol yang pernah dirayakan tetap menyala dalam kenang-kenang.


Satu hari seorang kawanku bercerita sayup-sayup padaku dalam satu kesan paitan sengit, bahwa Marcelo pernah disuap. Ia adalah pemain yang haus uang dan ia sebenarnya pemain biasa saja, kontroversial belaka. Aku menggeleng. Aiih, kepadamu biar kuceritakan tentang gol dan perayaan ke arah supporter dan bendera-bendera hijau itu. “Barito degradasi… Barito degradasi..” Suatu kali di tengah kota sana, lagu dengan nada singone dadi kucing ini pernah begitu asyik digemakan. Kami merayakan kesedihan lawan bersama langkah-langkah samba Marcelo, si gempal yang terus digaungkan di ingatan yang sayup-sayup.


Sebegitu mudahnya cap sang legenda tersemat pada dahi seseorang pada hari-hari sekarang. Waktu bahkan tak sanggup menamatkan kisah-kisah legendaris dalam sebuah percakapan panjang di kedai makan. Seabadi apa Marcelo dalam ingatan? Sekekal aku menuliskannya kepadamu, sayang. Menceritakan ulang apa yang kuingat pada kuyup badan kena hujan. Supaya kamu tahu, ia pernah semengesankan itu, menggetarkan penyokong sebelum turun minum, sampai usai laga dan tanda tangan di bahu-bahu kecil yang riang itu.


Eaaak, pemain nomor punggung dua puluh lapan asal Brasil siapaa diaaa… maka kini kamu tahu.



2015

Remeh-Remeh Kemerdekaan

Remeh-Remeh Kemerdekaan


kisah cinta kita memang tinggal ampas
tapi aku mengusahakannya dengan segala yang kubisa buat
jika kebohongan kauolokkan di mukaku sekitar seribu kali bumi berputar dalam sekian detik
aku tetap tak akan mencumbumu habishabisan
sebab begitulah bunyi mazmur
yang terdengar seperti rintihan
Daud mengerang kepada Tuhan atas nasib pedih yang dia alami. seperti aku tak bisa tak memilihmu sebagai kekasih hati yang paling pahit.


jika bercinta adalah ruang yang kekal
aku memberitahumu satu dua hal
tentang itu dengan kejujuran yang samar dan lamat, cuma buat kauludahi. tapi toh, aku masih saja mampu menulis puisi.


bukankah, sayang, bukankah?
dendam juga yang menggerakkan setiap mesin mobil di macet siang-siang?
bukankah, sayang, bukankah?
dendam juga yang membuncitkan perut perempuan kudus yang akan membesarkan anak sendirian yang serasa asam cuka itu.
hidup, sayang, hidup adalah anak-anak kali yang bermuara pada pertemuan yang lebur.
dan sampai kini, cintamu yang pelit itu masih saja mengagumkan, indah, dan sanggup membikin aku luluh lantah. hiroshima, sayang, lihatlah kota-kota yang lama kena atom. daun pun menjadi abu. sundal-sundal dan laki-laki belang menyatu jadi debu di keramaian yang paling khidmat pada 1945.


tahun 2015. cinta kita belum sama sekali merdeka. dari rasan-rasan dan kesumat yang dipendam. dan kita masih sepasang. cantik, bukan?



Kricak Kidul

Melesakkan Rindu Padamu Dari Jauh

Melesakkan Rindu Padamu dari Jauh


aku ingat betul bagaimana dingin winter di boston itu
angin minta ampun kencangnya
dua tiga botol bir masih tak mampu menghangatkan satu malam
dan mengantarkannya kepada pagi yang lain


aku lama merindukanmu
dengan pertanyaan tak terjawab
atau segala chit-chat yang selalu sudi melatih kesabaranku
ini tentang dirimu, cin. tentang kenapa aku menahan empat tahun nafsu dan menggelontorkannya sekali malam. apologi itu selalu menyedihkan
tapi tak pernah bagi rindu yang serius


(sudah sekota kita)
malam di sini dingin, tapi tak perlu juga membandingkannya dengan temperatur di pantai timur sana
rindu ini menggebu, sama seperti dulu. cuma ada cemburu yang siap menjaga udara di sini tetap pas. hangat. di antara rumahku dan rumahmu cuma terpisah sekiranya satu sekolah menengah negeri, tapi itu pun aku masih merasa kau demikian jauh


kadang-kadang segala hal cuma soal hati saja. soal pilihan semata. bahwa tak ada jarak yang sepanjang perasaan yang mengeras.
pikiran yang mendidih? itu juga. telinga yang tertutup dan bibir yang tak sudi ketemu. kadang-kadang lagi, menjadi jauh itu lesap sekali, kita bisa selamanya gagap dalam perasaan malu-malu. sst.. tak ada yang tahu.


hoi cintaku, masihkah sayang padaku?


hahahaha..


Kricak Kidul

2015

Perihal Memilihmu atawa Di Sebuah Cafe

Perihal Memilihmu atawa Di Sebuah Cafe


tidak ada cinta baru
yang tumbuh dari
kepalamu itu, sayangku
segala yang biru di antara kita
macam rontokan ketombe
dalam secangkir kopi.
begitu canggung saja.
persis robusta hitam yang belum
kausesap sejak datang


namun soal memilihmu itu,
berkali sudah kukatakan
" mendapatkan dirimu
tak lebih seksi dari tersesat
di sebuah jalan buntu.."
: maka marah mamapapa
terasa begitu asing
seperti nada dari kunci c#7
yang suwung dan terdengar
seperti rintihan kucing mau lairan


di sebuah cafe yang sepi
ini biarkan aku menikmati
lagi kopi yang langu
nada lagu yang sembilu
matamu yang sayu dan
dentum marah dari tenggorokanmu
yang sumbang. supaya mencintaimu
terasa lebih meragukan
( kukira di situlah nikmatnya )



2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Perihal kehilangan, Nyai

Perihal kehilangan, Nyai


saya sudah mengalaminya berkali
dan tak akan mengeluh.
namun soal melenguh itu, betul belaka


bagaimana ruang lumpang
ini bisa ditakar sebagai yang
paling pedih (?) saya sungguh
tak sudi bohong.
ngilu sekali.


kejujuran itu tak murah, nyai
saya menukarnya seharga itu.
seharga nyai yang dicintai tapi
pergi jauh dan urung kembali.
seharga juga sayatsayat
rindu yang rumit
lengkap dengan makian
paling memekakkan


kata-kata memang seperti mainan saja, nyai
ia memualkan
tapi lebih memualkan lagi,
perpisahan yang tak pernah baik.
ini seperti puisi tak jadi
yang berserak
di kamar hujan yang rembes
atau sore yang tiba-tiba mendung


serupa itu, sungguh, nyai.


oya ada doa nyai,
semoga nyai sehat dan baik melulu.


Kricak Kidul,

06/08/2015

Selasa, 04 Agustus 2015

08/04/2015

 08/04/2015


Selamat malam Denis dan malam di New York yang pikuk. Pagi ini Kricak begitu teduh, tukang ider bakpao pagi-pagi itu sudah lewat, dan segalanya makin sempurna dengan suara Bu Roro menyapu latar depan rumahnya. Repetisi suara lidilidi sapu yang bergesekan dengan aspal jalan makin mengisi apa yang sedang lowong dari pagi seperti ini: ketidakhadiranmu dan kerinduan seisi rumah kepadamu. Aku senang mendengar kabar kau sudah sampai New York, Bapak Ibu tampak begitu gemati melihat fotomu dan Niko di bandar udara John F. Kennedy. Kami punya harapan besar kepadamu, untuk suatu saat kau bisa sampai juga pada impianmu untuk menembus pameran di galeri-galeri di New York. Aku ingat bahwa pada suatu saat aku pernah menyusur jalan di sekitaran pecinan di sana, kuberjalan pada sebuah street yang kanan kirinya galeri-galeri indie belaka. Melihat semua itu aku teringat dua hal saja, kamu dan Yoshitomo Nara- idolamu itu. Dalam bathin aku berdoa, Ya Tuhan semoga suatu saat sampailah adikku di galeri-galeri sini. Dan sampai di sana adalah langkah awal doaku itu bakal kabul. Betapa penantian dua tahunmu berbuah manis, dan betapa pula setiap penantian yang setia selalu menggetarkan. Hmm.. semua kebahagiaanku hari ini bolehlah menjadi milikmu, dan tolong jangan berhenti di sini saja. Banyaklah minum air putih, sebab itu akan menjagamu dengan kokoh dari makanan-makanan sampah yang akan kautemu dengan mudah di sana. Janganlah banyak stress pada tugas-tugas yang bejibun, sebab hati yang gembira adalah obat.. hahaha. Lagipula kau sangat tahu bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Matisse bisa saja menjadi menjadi tukang buah, Murakami bisa juga tetap menjadi pemain jazz dan tak menulis, atau Pollock bisa pula acuh pada tumpahan cat yang tak sengaja itu. Nasib seniman, kurasa, cuma ditentukan oleh kesungguhan dan konsistensi pada apa yang sedang ia kerjakan. Sedang kesempatan hanyalah satu dari sekian hal yang mengiringinya saja. Aku lama percaya dan masih percaya betul bahwa kau lahir untuk melukis, seperti yang kaubilang ketika mengutip siapa-ya-aku-lupa, bahwa buatmu to paint is to love again. Waaa.. keren.


Kurasa begini saja. Kricak Kidul mengharapkanmu selalu sehat dan bisa kembali dengan pencapaian yang kaudapat dengan jerih yang haibat. Kami merindukanmu dengan perasaan senang, dengan rindu yang akan kami simpan saja pada sebuah sudut kosong di bekas studio gambarmu. Supaya kelak jika kau kembali, kangen kami ini masih saja terjaga dan tetap syahdu begini. Ya sudah, salam buat Kentucky dan sekolahan barumu ! (Oiya, Kapan kita kolaborasi lagi? hhe hhe hhe)


Masmu,

KG



Kamis, 28 Mei 2015

Hehehe

Hehehe


bermainlah kata-kata denganku,
seolah aku adalah
kawan berbagi kue di masa kecilmu
sehingga ketika kau menangis
aku akan mengajakmu bermain
kelereng dan itu akan
segera menyeka air matamu


bermainlah kata-kata denganku,
seolah aku adalah
orang yang tak tahu banyak hal
sehingga ketika kau tersenyum
aku akan tahu bahwa kamu
sedang bahagia sekali
- dan untuk itu, aku tak perlu
payah-payah menyimpan
khawatir seperti
aku memakai kalung berliontin
wajahmu berpose senyum dengan formasi jari membentuk huruf v
di dadap lorong via dolorosa


bermainlah kata-kata denganku,
seolah aku adalah papan skak
yang menemanimu dari kesepian
yang paling pesing.
bau anyelir campur asparagus yang kaubenci sejak tadi pagi,
barangkali kau lupa membuang sampah yang penuh
cangkang telur dan pelepah pisang


bermainlah kata-kata denganku,
sebab apa yang sudah tinggal sisa remah-remah. bulan malam
kelambu gesek suling bambu lampu-lampu
desa mawa tata negara mawa cara
di bawah bulan bibir kita menyatu
dalam puisi satu tambah satu
sama dengan tak terkira.


semoga kamu mau.


Polemanakos,

2014

Rabu, 27 Mei 2015

Parabens March (Atawa Hikayat Sederhana Belaka)

Parabens March (Atawa Hikayat Sederhana Belaka)
: labdo grahito


si ikan dan si kambing
menerima nasib dilahirkan
pada abad-abad yang dekat
pada tahun-tahun yang berdempetan
dan simbol-simbol yang bersebelahan


si ikan akan menelusuri sunyi paling
dalam di gua jiwanya sendiri
si kambing terjaga dalam terang
gua si ikan. dan maretlah bulan di kepala mereka
bulan yang terang berpijar seperti
kandilion yang tak pernah padam
atau pun surut dari godagoda
hingar bingar bianglala di pasar malam


si kambing menjaga si ikan
sebagaimana persaudaraan
diikat di sebatang pohon paling kekal.
begitu pula sebaliknya.
sebab kata papamama,
cuma ketulusanlah
yang membikin syukur terus dinyalakan


beruntunglah ikan
si kambing adalah
pengembara dengan sayang
paling malu-malu
(juga) beruntunglah kambing
si ikan adalah syair
dari doadoa padang pasir
atau kauboleh menyebut juga
air di teruk nasib hari isnin


“Parabens, March, Parabens..
bulan yang baik tidak pernah
satu kali saja ingkar.“ kata mereka
di sebuah percakapan yang penuh
lika liku


di rahim milkyway, dunia yang luas
beranak segala nasib
dari bintang redup yang bercumbu
kelelahan
( blarblarblar..)


kambing dan ikan ini
agaknya suka bersyukur dari balik
puisi dan lukisan-lukisan
tak terpemanai--
sebagaimana setiap narasi
yang tiap kali datang
kepadamu ketika dudukduduk 
santai di bawah mahoni
siangsiang hari.


“Parabens, March, Parabens !
kepada nasib baiklah kita bersender.
menggelayutkan hari baik di sebalik cakapcakap pendek“
pocap mereka di bilik-bilik pantai
timor sana. di mana zezededo bernaung
dan siap menggemaskanmu kapan saja.
haha


Brookline,
May 27th 2015

"Parabens March" by Labdo Grahito

P.S: 
Karya ini merupakan kolaborasiku dengan Labdo Grahito sebagai ucapan maturnuwun kepada Bulan Maret yang memungkinkan kami merayakan banyak hal dengan kedekatan yang begitu itu. Dan tentu, karena kesibukanku menjelang wisuda, juga kesibukan Labdo menjelang semester barunya, karya ini baru sempat dipos pada penghujung Mei. Semoga kamu suka :*

Minggu, 19 April 2015

Fragmen Sebelum Gelap

Fragmen Sebelum Gelap


Telah kutulis
sepuluh biji puisi
dalam satu sore.


belum juga habis
remah-remah kue
yang sisa dari dapur
bernama kenangan itu


kepul asap rebusan panci
dari cerita-cerita yang didaur
dalam kepala


biru jingga di pojokan situ.
senjakala.
sauh telah dilempar dan camar-camar
berangkat ke entah


di tiap pengkolan
ujung jalan
dan persipangan
orangorang menyebut rindu
dari narasi yang terdalam


gelaplah malam tanpa bintang
atau cahaya kunang.
lantas mereka masuk rumah
tetap dengan tanda tanya
di kepala



2015