Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Senin, 08 Desember 2014

Yang Kuketahui Tentang Yang Tak Kauketahui

Yang Kuketahui Tentang Yang Tak Kauketahui

:(marilah kamu, ketemu kita di meja yang penuh kesepian, supaya mata kita sama terjaga. marilah kamu, kita bermain dadu yang kupegang di tanganku ini.)

kita kemudian sepakat dengan aturan begini.. ketika dadu ini keluar ganjil, aku punya kesempatan untuk bertanya. namun ketika ternyata dadu ini keluar genap, aku akan menjawab apapun pertanyaanmu.

selanjutnya kukocok dadu ini, aku pandangi matamu lamat, dalam-dalam, dan diam pekat.


***


ganjil. ini berarti giliranku.
aku sudah tak sabar untuk bertanya, sebab lama kita tak bersua, dan kabar di antara kita cuma mampir seperti hembus angin di siang-siang gugur musim.
daun jatuh kuning, kuseka mukaku sekali supaya tak kaku.


" kenapa.."
kenapa ini ingin sekali keluar sejak awal pertanyaan. kenapa ini terus saja mengganggu pikiranku tentang kamu.
" kenapa, jika kamu memang menyayangi aku, sampai segala-galanya itu kita tempuh, kamu memilih mengakhirinya baik-baik? bukankah.. bukankah bila kita mengakhirinya baik-baik, ada yang tak akan hilang di antara mata kita ini. bukankah.. mengakhiri hubungan buruk-buruk justru akan membunuh kisah di ingatan kita sejak menit pertama kita memutuskannya? paling-paling kita hanya akan bersedih-sedih dengan kenangan manis, sesudah itu bangkit lagi menuju realitas hidup yang lebih nyata. Dan kita akan lebih sejahtera di jiwa dan di bathin. setidaknya ada yang lebih tepat di situ.."


matamu kuat. keduanya tak berkaca-kaca sedikit pun, sama kuatnya dengan bibirmu yang manis itu. pandanganmu mantap, tidak ada kesan nanar apalagi gugup. kamu, kuakui, sehari lebih dewasa dari biasanya. dua hari lebih cantik dari biasanya. dan tiga tahun lebih jauh dari biasanya.

kemudian kamu mulai bicara..
" kamu pernah bilang, bahwa cinta itu berlaku sehari saja. kamu adalah episode cinta yang panjang, tapi bukan episode yang menerus. aku telat sadar bahwa diriku sendiri lebih brengsek dari dirimu, padahal dirimu itu sudah sangat brengsek. sial.. aku harus bilang segini terang sama kamu. tapi memang, aku tidak bisa hidup di cinta yang kelewat melankolis. keragu-raguan itu bumbu masak, dan kamu sering menaruhnya banyak-banyak. kekhawatiranmu apalagi. dan tentang segala yang pernah kita tempuh.. apa artinya? kamu sendiri yang bilang bahwa cinta di antara kita ini murah. pokoknya, di antara kita tidak perlu ada yang diperjelas. kenapa tidak buruk-buruk? karena kamu tahu, bahwa aku bukan orang yang gampang mati rasa. aku bisa sewaktu-waktu peduli lagi, dan bisa mampir kepadamu tanpa membangun cerita lagi. aku egois, dan kamu tahu ini. kamu sendiri yang mengajariku untuk berlaku tidak adil.."


***


aku senang. kamu memang perempuan yang selalu lugas. selalu bernas. kamu adalah sesuatu yang lain. perempuan pintar yang sulit dijelajah. dan lebih penting dari itu, aku bersyukur kita masih punya celah untuk bertemu begini. bertukar dendam secara baik-baik. bukankah itu hal yang magis?


***


giliranmu mengocok dadu, kau menahannya agak lama di kedua tangkup tanganmu. kamu melakukannya sambil menggumam lagu disko terkenal, yang aku lupa judulnya, kamu tak pernah begitu suka lagu tipe begini sebelumnya.


ganjil lagi. giliranku lagi, apa adil? aku punya banyak pertanyaan, sih? masa dari tadi kocokan ini tidak genap?
tapi kita sudah menyepakati permainan ini dari awal. kamu menyuruhku bertanya lagi, maka aku akan bertanya dengan hati senang, dengan kebimbangan yang maksimal.
" jadi.. apa yang kaumaksud dengan cinta, sebenarnya? bagaimana seandainya kamu merasa sudah menemukannya tapi kemudian sadar bahwa itu adalah cinta yang salah, dan sialnya aku akan menolak jika kamu kembali?"


kamu tersenyum, tidak menampakkan muka cemas. seolah-olah ini pertanyaan biasa yang bisa muncul kapan saja di hidupmu, dan kuyakin betul kamu menganggapnya begitu. kamu mulai menjawab lagi.
" pertanyaan yang berat amat, ay. jujur, kamu menonjokku tepat di tenggorokan, jadi aku agak kurang siap dengan kuda-kudaku, tapi tentu akan kujawab pertanyaanmu. buatku cinta adalah pengalaman yang komplit, kamu hanya bisa menjawab ketika kamu sedang mengalaminya. sejak awal pertanyaanmu, aku yakin kamu hanya mau menjebak saja, kamu tahu kalau cinta itu tidak pernah ada deskripsinya di kamus kita yang serba terbatas. aku sudah menemukan seseorang yang kurasa jauh lebih menyenangkan darimu, jauh lebih hebat darimu, jauh lebih pintar darimu, dan jauh lebih paham situasi darimu, dan jauh lebih dekat darimu. jauh lebih semuanya daripada kamu. lagi pun ini penting, jauh lebih dekat. dari segala hal, ini paling penting. aku bukan seseorang yang bisa menahan rindu lama-lama, sementara kamu terus meyakinkanku untuk bertahan. taik kucing, kan? kamu tahu juga kalau ini taik kucing. aku tahu kamu anak pertama, punya watak yang keras dan tak mau kalah, aku juga sama. aku yakin, jika kita tahu bahwa cinta ini sungguhan, di antara kita tetap akan memilih diam. aku tahu kamu, tahu sekali. selama ini pun kita tak pernah saling menegur di pelbagai surat, jarak bremen-omaha ini sudah berhasil menciptakan kita jadi robot. robot yang dingin dan tak peka. dan ketakpekaan ini kurasa adil. kita memang tak punya rasa sayang yang besar dan lengkap. kalaupun ada, aku memilih menenggelamkannya pada nasib. aku tak akan mencarimu, paham? "


***


brilian. kamu selalu brilian, ay. aku jatuh cinta padamu bukan tanpa sebab. aku jatuh cinta padamu sebab alasan yang banyak: sebab kamu cantik, sebab kamu pintar, sebab kamu anak pertama yang manja. Perempuan manja selalu menarik. mendampingi perempuan manja, kurasa, akan membuatku nampak ksatria dan nampak lanang.
tapi kamu benar. nasib adalah kata-kata paling puncak sejak jutaan tahun lalu. sejak bumi ini masih orok, dan kita akhirnya bertemu di sini. ini nasib yang panjang, dan kita memang mengisi ketersambungan nasib sejak dunia dijadikan.
kamu nampak sudah lelah pada dua kali permainan dadu ini. aku pun belum punya lagi pertanyaan. dan kamu sepertinya tak peduli pada fakta bahwa kamu belum bertanya apa-apa padaku. tapi jujur, aku takut ditanya, aku takut tak punya jawaban trengginas sebaik jawabanmu. kamu tahu, kan, untuk banyak pertanyaan kawan-kawan pun aku selalu ingin menyediakan jawaban untuk mereka. tapi yasudah. semoga kita akan membezoek masa lalu kita lagi, di tempat ini, di lain waktu.


di pikiranku sendiri.


10052014
Masshachusetts






P.S: Ini lagu yang manis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar