Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Minggu, 26 Oktober 2014

PSS: Kenapa. Sudah, Itu Saja.

PSS: Kenapa. Sudah, Itu Saja.



Ada banyak hal yang tak bisa kujelaskan di hidup ini. Salah satu hal itu berupa pertanyaan: kenapa. Kenapa meskipun aku tahu sumber kesedihanku, aku tetap merasa sedih? kepadamu biar kubagi, cuma supaya kamu tahu.


Seantero Massachusetts sedang dingin. Tiap jejak langkah takkan menghindarkanmu dari angin yang menembusi tulang. Jaketmu boleh saja tebal, upayamu menutup tubuhmu rapat-rapat boleh maksimal, tapi musim dingin tetaplah musim dingin. Kamu mesti menghadapinya, sebab dia punya kuasa lebih tinggi daripada kehendakmu. Kehendak untuk “mbok iyao hawanya anget terus.”
  

Ah..


***


Kemarin PSS bertanding melawan Semarang. Seperti hari pertandingan PSS lainnya, aku bangun pagi dan bolak balik menengok telepon genggam. Twitter, WhatsApp, Twitter, WhatsApp. Keduanya memberiku informasi, keduanya terus kuikuti. Sampai aku tertidur lagi, terlalu capek, nol-nol. Aku tidur dengan perasaan aman. Timku sudah pasti lolos ke babak semifinal, siapapun lawan di semifinal terserah, aku punya keyakinan tebal kalau PSS akan lolos ke ISL.


Ketika sesuatu mengecewakanmu, tubuh dan pikiranmu akan bereaksi buruk. Dugaan baik tidak banyak membantumu, kamu terlanjur kecewa. Ketika pacarmu berkhianat, dadamu akan langsung penuh dengan amarah, dan kamu ingin mendampratnya habis-habisan. Seakan-akan kamu orang yang paling pantas mendaku kecewa, berhak mendaku sedih, layak mendaku dikhianati.


Begitulah kira-kira, kamu tahu, kan?
Sebangun tidur, perasaanku persis begitu. Aku dan kawan-kawan penyuka PSS di grup merasa malu dengan kabar PSS menang 3-2 atas tamunya PSIS, semua gol tercipta lewat bunuh diri. Aku mencoba mencari kata-kata untuk menjelaskan kepadamu perasaanku, tapi tak ketemu. Ada yang sesak di pikiranku, ada kecamuk, dugaan buruk yang mengular seperti macet Yogya di panas suatu siang. Di timeline twitter semua orang membahasnya, dan semuanya seolah mengejekmu, dan kamu tersudut. Belum selesai memar di bathin kemarin, penghakiman itu datang lagi pada tim ini. Ada perasaan letih, capek, malas berjalan, sudah sajalah, dan lain-lain.


140an notif Whatsapp, kebanyakan dari grup. Ada berita gemilang, ada rutuk dan maki-maki. Pagi yang susah dan komplit. Wulang Sunu, kawan kecilku, baru saja membuka pameran seni bertajuk “The Marmos” bersama grupnya di Sip Club. Itu berita baiknya. Berita jeleknya, semua kawan marah pada PSS. Orang-orang di luar bersorak senang menghakimi PSS dengan keras sekaligus malu-malu, dengan membawa tombak pedang moralitas; atas nama sepakbola yang sportif nan suci, mereka menganggap tim ini baru saja melakukan dosa besar. Kutuk kekecewaan seperti hujan deras. Gol Awang dan Hermawan PJ ke gawang sendiri itu, bagaimana bisa? Kenapa tega? Orang-orang tiba-tiba saja merasa lebih berhak kecewa daripada kami.


PSS. PSS. PSS. Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil.
Namun wahai manajemen PSS, wahai pemain-pemain PSS.
Kenapa?


Aku kecewa. Aku marah untuk dua gol bunuh diri yang hampir membuat tim ini kalah dan jadi runner up. Aku marah atas ketakutan kalian pada Pusamania, padahal kami punya kepercayaan yang amat besar pada tim. Kepercayaan bahwa banyak dari kami akan jadi panji-panji yang berdiri teguh di semifinal- akan mengantarkan kebanggaan kami ini mengalahkan Borneo dengan pekik nyanyi perjuangan. Di banyak keyakinan dan doa-doa kami, kami percaya bahwa kalian punya cukup kekuatan untuk mengalahkan Borneo. Tapi. Tapi..
Kenapa?


Kata Murakami, “ Tiada kebenaran, tiada ketulusan, tiada kekuatan, tiada keramahbaikan, bisa mengobati kesedihan. “
Oh pahlawan-pahlawan yang kami seru tiap waktu tanding.
Kenapa?


Buat Denis, Tomy, Mancing, dan kawan-kawan Canisiuso 1976, kalian berhak malu. Kalian boleh mengurung diri di kamar dalam pertanyaan pada Gusti: kenapa Awank dan Hermawan PJ sudi melakukan gol bunuh diri? Kalian punya hak begitu karena banyak alasan. Sungguh, atas nama tidak pernah absen mendukung di Maguwo dan dingin bis tanpa kaca jendela di laga away dan ujud-ujud kesetiaan lain, kalian berhak menangis. Kekecewaan adalah kekecewaan. Titik. Dan semoga kita semua segera sembuh dari perasaan begini. Perasaan lowong dan lumpang dan malas makan. Hih…



Brookline, 10 Oct 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar