Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Sabtu, 22 Maret 2014

Tridadi dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Tridadi dan Hal-Hal yang Tak Selesai
: ( dari A sampai Z, dari Siswanto sampai Serge, Dari Bagong sampai Kahudi )

" Adapun dipercayakan sebagai kepten kesebelasan, pemain hitam legam asal Brasil.. Siapa diaaaa???"


Pada satu bunga rampai, GM menganggap bahwa bincangan tentang Tuhan seakan tak akan berpenghujung. Dalam satu kesempatan, seorang kawan bilang begini, " ternyata banyak juga ya, yang baca cerita di blogmu tentang PSS? kenapa tak kaubikin terus?"
Mirip seperti di buku itu, kurasa membicarakan PSS juga tak akan ada habis. Aku takut dua tanda tanya itu dijawab tanpa titik. Sebab bagiku PSS adalah mata air. Ia juga adalah ziarah panjang bagi mereka yang mengikuti.


Tridadi adalah bagian dari tirakat itu. Banyak yang bisa diingat-ingat dari Tridadi, stadion di Sleman sebelah utara sana. Kalau dari kota naik bis, kau bisa menempuhnya dengan bis Jogja- Tempel. Ada waktu dan jarak yang mesti kautempuh dengan tak sembarangan. Kalau kau nyegat bis dari Godean, kau mungkin bakal mengeluh pada seberapa lama bis mini itu berhenti di Pingit, belum kau perlu menunggu bis itu ngetem lama lagi di Jombor, meski tetap dengan penumpang yang itu-itu juga. Meski dengan dia lagi dia lagi. Dan sampai di Denggung, kau mesti jalan lumayan masuk ke arah barat. Sampai di Tridadi, dulu, selain matchday kau tak akan menemui siapapun kecuali Mbah Dirun putri yang kondang bukan main itu. Ia menjadi figur legendaris bukan karena extra jos dan tahu gorengnya saja, tapi juga baktinya yang mutlak. Doa-doa-terbaik untuk beliau.


Aku masih terlalu kecil untuk merekam Tridadi dalam catatan yang rapi dan baik untuk sekadar kembali menceritakannya padamu. Tridadi begitu besar dan luas untuk aku yang kecil. Dalam ingatanku, ia selalu penuh maki orang yang berdiri memanyunkan muka di sela-sela besi pembatas lapangan dan tribun. Di sana kau bisa nemu cacian-cacian dan bau alkohol murah sekaligus, atau pasangan-pasangan muda yang merasa pacaran terbaik adalah menonton Liga Indonesia. 


Aku sendiri suka menghafal nama-nama. Sebab nama adalah doa orang tua, setiap orang tua pemain bola kubayangkan mendoakan anaknya jadi anak yang baik bagi orang lain. Di Tridadi, atas nama kebahagiaan warga Sleman, doa-doa mereka telah paripurna. M. Eksan dan Seto Nurdiantoro. Denilson dan Francis wollo. Joice Sorongan dan Didik Tri Yulianto. Nugroho atau Tanasit Tong In. Rudi Widodo atau Musafri. Pengkhianat atau Kahudi. Mereka adalah nama-nama pemain yang setia mengisi ingatan orang-orang pada Tridadi.


Di Tridadi rumput terawat dengan organik, pada satu tempo latihan SSB di sana, lapangan masih belum siap karena kambing-kambing ( mungkin milik mbah Dirun kakung, doa-doa terbaik juga untuk beliau) belum selesai makan rumput. Kambing-kambing itu dulu sering jadi olok-olok Denilson. Suatu kali ia datang latihan terlalu mruput, ia bercanda dengan berlagak mau menendang bola ke arah kambing-kambing di situ. Denilson Goncalves. Dua yang kuingat dari Denilson; kupingnya yang cacat dan rindunya yang tulus. Ia sempat mandul dan selalu jadi bincangan orang-orang pas turun minum. Keabsenannya bikin gol bertahan lama. Namun begitu pecah telur, ia langsung menangis dan mempersembahkan golnya untuk Hector, anaknya yang jauh di nun. Tentang Hector, ada kerinduan yang tampak pada paras Denilson yang kotak, tegas, dan mirip gladiator itu. Denilson begitu kebapakan di Tridadi sore itu, yang awannya magenta dan banyak belibis dan sesekali pesawat lewat.


Siswanto kemudian Serge.
Pada suatu sore di Tridadi, melawan Persekabpas adalah misi gampang. PSS sudah menang besar, sebelum gelandang Persekabpas masuk. Kelak ia memperkuat klub-klub kenamaan tanah air. Adalah Siswanto, nama yang terus melekat pada siapa saja yang datang sore itu, kecepatannya bikin yang lihat dari dekat lapangan ketar ketir. "Woi woi woi ! pangan Gong !" itu yang kuingat dari orang-orang yang cemas tapi sok garang ketika Siswanto dapat terobosan dari Zah Rahan. Siswanto adalah penyihir yang mahir. Serge hampir sama, bersama Arema ia adalah mimpi buruk. Bedanya, ketika Serge mencetak dwigol di Tridadi, banyak orang sudah tak peduli. Toh, bila PSS lolos lawan Arema, itu tak membuat nasib tim murah kami yang sedang kelaparan jadi kenyang.


Tentang Bagong dan Wahyu Teguh, dan Kahudi Setelahnya.
Bagong adalah sayap yang dinamis. Ia adalah si tiba-tiba bagi skor yang masih kosong-kosong. Pada satu hari yang cerah, tendangan bebas Bagong ke gawang Persija bisa sangat mbebayani, pintar, dan terukur. Pada sore lelah yang lain, PSS selalu dirundung seri di Tridadi, tak ada poin tiga dan segala hal nampak salah. Permainan yang remis selalu njelehi. Kapten Bagonglah yang dimaki, di dekat tribun VIP sekaligus dekat pintu keluar, Bagong menendang teralis besi dan balas memaki seorang fan yang menganggapnya bermain seperti penari. Beberapa orang menenangkan amarah Bagong, beberapa menenangkan si fan yang geram.


Tridadi menyaksikan itu. Tridadi, tiga poin jadilah. Ia adalah saksi bagaimana Wahyu Teguh mondar mandir di tengah lapangan, menghindari tekel bek lawan, dan melancarkan voli yang bikin decak kagum siapapun yang nonton. Lepas pertandingan itu, aku memburu tanda tangan Wahyu Teguh. Di sana juga aku sangat ingin jadi pemain sepakbola, sebab Kahudi Wahyu selepas pertandingan selalu disambangi kawan perempuannya sampai ke mess di dekat telaga situ. Aku selalu terpikat pada romantisme remeh model demikian.


Aiiih.. di sepakbola, adakah yang lebih manis selain hubungan stadion dan klubnya? di mana saja sama. Kridosono di kota, Sriwedari di Sala, Lebak Bulus di Jakarta juga sama. Tridadi adalah rumah bagi Kahudi, rumah yang akhirnya  jadi barang asing baginya. Begitu pura-puranya pula kami, ketika PSIS datang kami menyanyikan lagu sarkastik pada Kahudi, " Sekarang PSS sudah kaya, di Semarang kamu dapat apa?" Kekesalan pada Kahudi membuat kami merasa punya. Dan di situlah, 90 menit berpotensi jadi riset longitudinal  yang tak akan pernah sempurna. Kahudi memang pindah ketika suporter justru sedang puncak menyukai gaya mainnya.


Tridadi adalah sahabat siang yang panas ngentang-ngentang. Tridadi adalah discontinuity, ketaksambungan dari banyak hal. Dari era APBD ke tanpa APBD, dari Jalan Magelang ke Ring Road Maguwo, dari siang di hari minggu ke lagu Koes Plus tentang malam di telaga sunyi, dari stadion yang riuh ke lagu Koes Plus “Hidup yang Sepi.”
Begitulah Tridadi. Tiga poin jadilah !


Brookline, Maret 2014

5 komentar:

  1. Bukankah Std Tridadi itu di dekat pemerintahan kota Sleman ya?
    Bukan pinggir kota?

    BalasHapus
  2. mas jatiezphobia, matur nuwun koreksinya. aku bisa-bisanya luput kalo tridadi justru ora pinggir hahahhaa
    segera tak ubah ntar :) nuwun :)

    BalasHapus
  3. kalimat yang membuat saya ngguyu " gong, pangan gong!! "

    BalasHapus
  4. mas RezziCasual hahahahhaa kalimat yang intim antara suporter dan pemain yo, mas...

    BalasHapus