Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Selasa, 30 Desember 2014

Puisi Akhir Tahun

Puisi Akhir Tahun


puisi merupakan perayaan. aku mengatakannya padamu sekali,
dan dua kali, dan tiga kali,
dan tidak akan kuhentikan pada keempat kalinya.


ai hai, tahun keempatbelas di abad dua satu,
kau segera pergi dan aku tak perlu berat-berat menahanmu.
puisi menyelamatkanku dari tindakan murah macam itu.


akan kukenang kau seperti bintang di hub galaksi yang mati 
lama sekali sebelum kutulis ini.
" aku tak lagi punya perasaan yang besar."
kuterima pesanmu dengan teduh
seperti night at lake unknown waktu
malam tahun baru hampir menjelang. 
ouzzo dan india pale ale. octoberfest.
mendung. di luar mendung.


" but I can't live outside the moment,
and it keeps leaving me behind"


lampu oranye menyepuh di kamarku yang rapat. 
rak buku. lukisan telanjang si anu.
selamat natal, kata mama. lonceng gereja.
bila saja semua kenangan bisa diloakkan, barangkali
manusia tak perlu ada yang miskin.
tak perlu ada gawang-gawangan sandal. tak perlu
keluar pahlawan dari gang-gang susah di montevideo.
santa cruz. rio. banda. ungaran. klajuran. wates. manapun


selamat tahun baru, kata puisi.
semua orang memanggul tahun yang berat supaya 
tahun besok mereka lebih kuat, katanya lagi.
biar kunyalakan kembang api di antara jarak ini. 
lewat puisi. izinkan aku menciummu sekali-kali.


Athens, GA

31 Desember 2014



Senin, 29 Desember 2014

Dari Boim ke Stubat dan Malam di Gowongan

Dari Boim ke Stubat dan Malam di Gowongan
 : untuk tahun yang cantik jelita


hari sudah hampir tutup, janji kami sudah ingkar, tapi niat kami belum. grup boim adalah grup yang sering mengkhianati kesepakatan, sekaligus menjaganya rapat-rapat. paradoks terbaik yang kusaksikan tumbuh nyaman serupa belukar di depan rumah pak dalsim, seorang tua di masa kecilku yang memilih bertapa menjadi rahib di gelap rumahnya sendiri.


" mengko kumpul jam 9 tet ning omah wulang, nek kecu ditinggal."
kata-kata ini tak cuma sekali, tapi lebih dari tujuh puluh enam kali diucapkan setiap kami mau berkumpul, toh itu cuma gertak yang tak menakutkan belaka. pertemuan, mungkin kami anggap sebagai sebuah arketipe dari nasib yang gemilang. bertemu, betapapun telatnya, lebih berharga daripada tidak kumpul. bincang-bincang yang cair memungkinkan kami yang introvert menemukan jati diri lain sebagai extrovert. barangkali sebab itulah alam bawah sadar menuntun kami pada sikap 'sek dienteni dilit meneh.'


jam sudah lebih dari jam 9, obrolan di kamar wulang makin hangat. bapak-ibu wulang menyimak diam-diam, dan kami makin asyik. para boim suka mengolok-olok diri sendiri, menertawai kebodohan, dan menyalahkan orang lain. itu komposisi yang pas untuk sebuah grup, menentukan ketidakcocokan dan membagi ketidakcocokan itu kepada anggota, seperti membagi komuni. itulah liturgi kami.



" si fulan dan fulan kae wonge wagu banget, yo, mbiyen adewe ra dianggep saiki nyedaki-nyedaki ngono.."
" kuwi buah karya, bung. karyane adewe meneng-meneng mengubah banyak hal. termasuk pandangan orang."


di luar yogya dingin, di kamar wulang yang mini-size segalanya jadi hangat. pada dinding-dindingnya banyak tergambar coretan-coretan lama kami, termasuk gambar AC dua dimensi yang tampak begitu komikal. kami tinggal menunggu duta, laki-laki yang gemar mengkritik dan bernada kiri, beralasan rumahnya jauh dan kadang tepat kadang telat. biasanya dia memang punya urusan dengan kekasihnya, mereka menjalin kisah kasih sudah sejak delapan tahunan lalu- semoga selalu awet.


akhirnya duta datang, kami langsung mengomentari tiap apa yang dikenakannya, sebab dia ini walaupun suka bicara kiri, tampilannya brandy haha. dia langsung mengambil duduk di sudut kamar, sedikit bicara tentang curah hujan di daerah godean dan blablabla.


sudah hampir satu dekade sejak perjumpaan perdana kami, belum pernah ada memoar atau sekadar catatan kecil tentang perjalanan kami- boim family. tidak ada catatan tentang muasal nama atau sejarah kapan didirikan, tahu-tahu kami merekat begitu saja. semuanya hampir seperti sulap, abrakadabra, jadilah boim family sampai dua tahun belakangan sepakat menamakan diri studio batu. maka hadirlah tulisan ini, untuk memungut apa yang bisa diceritakan ulang, betapa tahun berganti lagi sejak kali perdana menjelajah kretek kewek, dan kami masih begini- dengan perubahan sana sini. semoga selamanya tetap teguh, penuh cinta, dan tinggal dalam rumah ketakmengeluhan. amin.



dari boim ke stubat. dari kami yang kanak-kanak ke kami yang beranjak berbulu lebat. selalu ada ruang untuk tiru-tiru, untuk mengimitasi keadaan sekitar sebagai wahana belajar.
sudah lama betul sejak kami melakukan prodo gagal di dinding-dinding liar bersama anak-anak sebaya lain, yang kelak beberapa di antaranya menjadi sohor, dan kami berjalan pelan keluar dari dunia melukis tembok itu (kalo saja  Nick23 baca, pasti dia ingat betapa passion kami waktu itu lebih duwur ketimbang bakat).



tejo memutuskan untuk masuk IPA, meski ia tahu bahwa film hanyalah satu-satunya future road bagi hidupnya yang cemerlang. Telah banyak film sejak ia memutarkan film pendek pertamanya di dagen, film yang wagu bukan kepalang. Tapi selalu ada pengorbanan yang manis, dimanapun itu. wulang pun, ia belajar di kawah candradimuka bernama papermoon. kami bersaksi dari dia yang turah waktu sampai dia yang membayangkan bila sehari dibuat lebih dari 24 jam, haha- dalam keterbatasan kita senantiasa merengek-rengek kemustahilan.
fabek tetap misterius dan tiap tahun jadi lebih teatrikal, ranggaye diam-diam mampu beli motor lanang sendiri berkat proyek yang sering ia simpan sebagai kejutan. tommy meniti karier menjadi manager raminten uborampe setelah sekian lama ingin jadi pemain basket pro,dan mancing sudah tak lagi giat menggerinda. time flies dan kita selalu punya kesempatan untuk tercenung kok iso ngono yo.




***


akhirnya semua komplit berkumpul setelah ragil dan yodi, para musisi grup band kontemporer saka asal condongcatur, datang bersama klebes hujan. muka-muka klentruk dan teruk. rupanya mereka usai manggung. gowongan penuh dengan kewajaran, kami menyambut mereka dengan kebahagiaan yang buncah, seperti ada parade di relung bathin kami sekalian. batu studio serupa mercu ketika kami sedang bingung menentukan arah kapal. atau rumah kokoh ketika di luar hujan badai sedang menyusahkan. jam sudah hampir menunjuk angka 12, tak ada yang ditinggal, kami segera ke ganjuran. berdoa untuk semua hal yang lumrah dan wonderful dan ciamik yang telah Gusti Pangeran beri. amin.


Boston

12302014




Minggu, 21 Desember 2014

Post Card from Holland

Post Card from Holland

: hana mahatmayanti
maaf baru balas


tentu, hana, ada jarak
yang tak mungkin
ditempuh sekali gusah


musim bersemi di antara
kincir-kincir
senyum tulip dan segala
yang wangi


zwolle, afsluitdijk, enkhuizen
lafal yang senyap asing


kota-kota itu seperti
hendak memakanmu
tapi pasti kamu lebih gampang
jumpa sambal dadak dan nasi
lalap kemangi dan lauk lengkap


pada rindu-rindu kecil
kita menyimpan
kanak-kanak
dan surat balasan
dalam kantung baju
kita yang mungil.
biar kekal di situ
- bersama dagen, riuh jalan searah,
dan malumalu


waktu serupa kayuh
sepeda kayu


siang akan lewat
macam-macam hal pun begitu
: siul nona nina, sayup angin
di kanal-kanal rotterdam, senyummu dari kejauhan
sangat gemilang.
seperti kotamu- magelang


atas nama semua itu
kita bersyukur
untuk segala pertemuan


salam.


di boston winter datang terlalu dini,

November 2014

P.S: Selamat ulang tahun, semoga kau selalu sehat. Rinduku dari sini.


Senin, 08 Desember 2014

Yang Kuketahui Tentang Yang Tak Kauketahui

Yang Kuketahui Tentang Yang Tak Kauketahui

:(marilah kamu, ketemu kita di meja yang penuh kesepian, supaya mata kita sama terjaga. marilah kamu, kita bermain dadu yang kupegang di tanganku ini.)

kita kemudian sepakat dengan aturan begini.. ketika dadu ini keluar ganjil, aku punya kesempatan untuk bertanya. namun ketika ternyata dadu ini keluar genap, aku akan menjawab apapun pertanyaanmu.

selanjutnya kukocok dadu ini, aku pandangi matamu lamat, dalam-dalam, dan diam pekat.


***


ganjil. ini berarti giliranku.
aku sudah tak sabar untuk bertanya, sebab lama kita tak bersua, dan kabar di antara kita cuma mampir seperti hembus angin di siang-siang gugur musim.
daun jatuh kuning, kuseka mukaku sekali supaya tak kaku.


" kenapa.."
kenapa ini ingin sekali keluar sejak awal pertanyaan. kenapa ini terus saja mengganggu pikiranku tentang kamu.
" kenapa, jika kamu memang menyayangi aku, sampai segala-galanya itu kita tempuh, kamu memilih mengakhirinya baik-baik? bukankah.. bukankah bila kita mengakhirinya baik-baik, ada yang tak akan hilang di antara mata kita ini. bukankah.. mengakhiri hubungan buruk-buruk justru akan membunuh kisah di ingatan kita sejak menit pertama kita memutuskannya? paling-paling kita hanya akan bersedih-sedih dengan kenangan manis, sesudah itu bangkit lagi menuju realitas hidup yang lebih nyata. Dan kita akan lebih sejahtera di jiwa dan di bathin. setidaknya ada yang lebih tepat di situ.."


matamu kuat. keduanya tak berkaca-kaca sedikit pun, sama kuatnya dengan bibirmu yang manis itu. pandanganmu mantap, tidak ada kesan nanar apalagi gugup. kamu, kuakui, sehari lebih dewasa dari biasanya. dua hari lebih cantik dari biasanya. dan tiga tahun lebih jauh dari biasanya.

kemudian kamu mulai bicara..
" kamu pernah bilang, bahwa cinta itu berlaku sehari saja. kamu adalah episode cinta yang panjang, tapi bukan episode yang menerus. aku telat sadar bahwa diriku sendiri lebih brengsek dari dirimu, padahal dirimu itu sudah sangat brengsek. sial.. aku harus bilang segini terang sama kamu. tapi memang, aku tidak bisa hidup di cinta yang kelewat melankolis. keragu-raguan itu bumbu masak, dan kamu sering menaruhnya banyak-banyak. kekhawatiranmu apalagi. dan tentang segala yang pernah kita tempuh.. apa artinya? kamu sendiri yang bilang bahwa cinta di antara kita ini murah. pokoknya, di antara kita tidak perlu ada yang diperjelas. kenapa tidak buruk-buruk? karena kamu tahu, bahwa aku bukan orang yang gampang mati rasa. aku bisa sewaktu-waktu peduli lagi, dan bisa mampir kepadamu tanpa membangun cerita lagi. aku egois, dan kamu tahu ini. kamu sendiri yang mengajariku untuk berlaku tidak adil.."


***


aku senang. kamu memang perempuan yang selalu lugas. selalu bernas. kamu adalah sesuatu yang lain. perempuan pintar yang sulit dijelajah. dan lebih penting dari itu, aku bersyukur kita masih punya celah untuk bertemu begini. bertukar dendam secara baik-baik. bukankah itu hal yang magis?


***


giliranmu mengocok dadu, kau menahannya agak lama di kedua tangkup tanganmu. kamu melakukannya sambil menggumam lagu disko terkenal, yang aku lupa judulnya, kamu tak pernah begitu suka lagu tipe begini sebelumnya.


ganjil lagi. giliranku lagi, apa adil? aku punya banyak pertanyaan, sih? masa dari tadi kocokan ini tidak genap?
tapi kita sudah menyepakati permainan ini dari awal. kamu menyuruhku bertanya lagi, maka aku akan bertanya dengan hati senang, dengan kebimbangan yang maksimal.
" jadi.. apa yang kaumaksud dengan cinta, sebenarnya? bagaimana seandainya kamu merasa sudah menemukannya tapi kemudian sadar bahwa itu adalah cinta yang salah, dan sialnya aku akan menolak jika kamu kembali?"


kamu tersenyum, tidak menampakkan muka cemas. seolah-olah ini pertanyaan biasa yang bisa muncul kapan saja di hidupmu, dan kuyakin betul kamu menganggapnya begitu. kamu mulai menjawab lagi.
" pertanyaan yang berat amat, ay. jujur, kamu menonjokku tepat di tenggorokan, jadi aku agak kurang siap dengan kuda-kudaku, tapi tentu akan kujawab pertanyaanmu. buatku cinta adalah pengalaman yang komplit, kamu hanya bisa menjawab ketika kamu sedang mengalaminya. sejak awal pertanyaanmu, aku yakin kamu hanya mau menjebak saja, kamu tahu kalau cinta itu tidak pernah ada deskripsinya di kamus kita yang serba terbatas. aku sudah menemukan seseorang yang kurasa jauh lebih menyenangkan darimu, jauh lebih hebat darimu, jauh lebih pintar darimu, dan jauh lebih paham situasi darimu, dan jauh lebih dekat darimu. jauh lebih semuanya daripada kamu. lagi pun ini penting, jauh lebih dekat. dari segala hal, ini paling penting. aku bukan seseorang yang bisa menahan rindu lama-lama, sementara kamu terus meyakinkanku untuk bertahan. taik kucing, kan? kamu tahu juga kalau ini taik kucing. aku tahu kamu anak pertama, punya watak yang keras dan tak mau kalah, aku juga sama. aku yakin, jika kita tahu bahwa cinta ini sungguhan, di antara kita tetap akan memilih diam. aku tahu kamu, tahu sekali. selama ini pun kita tak pernah saling menegur di pelbagai surat, jarak bremen-omaha ini sudah berhasil menciptakan kita jadi robot. robot yang dingin dan tak peka. dan ketakpekaan ini kurasa adil. kita memang tak punya rasa sayang yang besar dan lengkap. kalaupun ada, aku memilih menenggelamkannya pada nasib. aku tak akan mencarimu, paham? "


***


brilian. kamu selalu brilian, ay. aku jatuh cinta padamu bukan tanpa sebab. aku jatuh cinta padamu sebab alasan yang banyak: sebab kamu cantik, sebab kamu pintar, sebab kamu anak pertama yang manja. Perempuan manja selalu menarik. mendampingi perempuan manja, kurasa, akan membuatku nampak ksatria dan nampak lanang.
tapi kamu benar. nasib adalah kata-kata paling puncak sejak jutaan tahun lalu. sejak bumi ini masih orok, dan kita akhirnya bertemu di sini. ini nasib yang panjang, dan kita memang mengisi ketersambungan nasib sejak dunia dijadikan.
kamu nampak sudah lelah pada dua kali permainan dadu ini. aku pun belum punya lagi pertanyaan. dan kamu sepertinya tak peduli pada fakta bahwa kamu belum bertanya apa-apa padaku. tapi jujur, aku takut ditanya, aku takut tak punya jawaban trengginas sebaik jawabanmu. kamu tahu, kan, untuk banyak pertanyaan kawan-kawan pun aku selalu ingin menyediakan jawaban untuk mereka. tapi yasudah. semoga kita akan membezoek masa lalu kita lagi, di tempat ini, di lain waktu.


di pikiranku sendiri.


10052014
Masshachusetts






P.S: Ini lagu yang manis

Kamis, 20 November 2014

Love Of Our Life

Love Of Our Life

: Bapak-Ibu


dua puluh empat tahun, pak-bu, bukanlah waktu yang cepat
meski kemarin rasanya baru kemarin
dan tiga windu, apalagi, terasa baru saja berlangsung.


tapi cinta yang dirawat baik-baik, pak-bu, adalah dunia yang lama sekali.
yang liat, luas, dan bebas, dan seperti selama-lamanya


kamilah anak-anakmu, pak-bu
yang barangkali merekatkan cinta 80an itu
jadi lebih mudah dicerna
dan gampang dipahami
meski apa cinta itu
kami masih suka bingung
bukan main


maka anak-anakmu pula, pak-bu
yang dengan penuh takzim merayakan cinta orangtuanya
lebih gegap dari bapak-ibu sendiri


inilah ucapan terimakasih, pak-bu
dari anak-anakmu yang tumbuh dari waktu
dan cinta yang kuat
dari zaman yang berubah jam ke jam
dan nasib yang kelewat baik
dari kemiskinan yang selalu
dan ketabahan yang berulang
dari uang sekolah yang telat
dan ketahanan pada siang tanpa ikan ayam
dari rumah yang talangnya bocor
dan kecup kening sebelum kami sekolah
dari marah ihwal kami hujan-hujan
dan hangat misoa selepasnya
dari rengek minta sangu
dan seribu dua ribu yang dari langit itu


selamat dan selamat
panjang umur dan selalu sehat
maka kelak datang putu
dan hidup itu indah seperti
yang begitu wajar
bapak-ibu ajarkan setiap hari !
*cheers


Boston-Kricak
Sea-Denis-Dimi-Despina,

11202014

Drawing by Labdo Grahito, Pencil On Paper

P.S:
aku dan adekku pernah merenungkan beberapa soal: kenapa kami lahir di dunia ini? kenapa mesti lewat Bapak dan Ibu? kenapa Bapak menikahi Ibu, bercinta, dan jadilah kami? Kenapa kami tak bisa memilih, toh bila bisa memilih kami tetap mau orangtua yang sama? kenapa dsb dsb dsb..

Setelah bertahun-tahun kami ada, pun, kami kerap tidak menyadari bahwa ini adalah nasib terbaik. bahwa kami mesti lahir dan hidup di keluarga yang biasa dan kerap kurang, tapi jarang mengeluh.

maka setelah #3windubapakibu, kami pun memberi ini. karya kami. dari buah pikir dan rindu-rindu kecil, dari permenungan dan sedikit kerja keras. ujud syukur dan pengingat, bahwa kami ada sebab cinta mereka, sebab rindu dan bulir-bulir keringat itu menjelma empat jabang bayi yang kelak kerap menyusahkan.

tentu, kalau sudah ada rezeki lebih, kami pengen kasih sesuatu lebih dari ini. sebab banyak hal yang melengkapi hidup kami, takkan pernah ternilai :) bapak-ibu adalah salah satu dari banyak hal itu. 

#3windubapakibu



Keterangan: Om Pom-Pom feat. Dek Indri di dapur Ibu

Rabu, 19 November 2014

Musim-Musim

Musim-Musim


baling-baling
embung air
pahit empedu
semuanya tiba-tiba
menempel di antara alismu
menyaru jadi tahi lalat
yang malang bukan kepalang


di antara rimbun bulu,
dendam kental menggumpal
berbaris seperti tentara
siap menguras desa
dari mala. katanya


lebih jauh.
di bathinmu
aku tak lagi bisa menyelam
sebab air bah
sudah sampai dahi-mata


aku terperangkap
dalam pukat anyir bernama
masa dulu. di mana waktu
begitu tipis seperti perkawanan
di antara khianat.
tepat, seperti yudas


dalam khidmat doa paling pendekku
semoga ada kunang-kunang
rajin berkitar
menguras bising genang kenang
dari segenap kisah degup-redup ini.
amin.


Brookline
11192014

Sebuah Jawaban Bagimu

Sebuah Jawaban Bagimu


sampai kini pertanyaanmu
masih kusimpan di batu
akik. mengkristal di sana
bersama mban tua
pemberian pakdheku.
kalasan. candisari itu


kenapa aku memelihara
kesedihan
yang ia tak akan tersenyum,
lompat-lompat,
menyambutmu dari luar
- seperti anjing


atau kucing gemulai
yang pandai menggoda
kekhusyukanmu dengan
pandang mata cantik
cemerlang serupa lambai
mama dari kejauhan.


            kenapa aku memelihara
            kesedihan


supaya kamu paham,
bahwa segenap intan
dimulakan dari sakit
dan remang-remang


Brookline
2014

Selasa, 11 November 2014

Buat Denis

Buat Denis


kricaklah, dek, yang membawa kita belajar banyak. dari keadaan yang buntu dan kemiskinan yang sungguh-sungguh. dari masa lalu yang manis dan sekolah yang susah.


tapi kricak pula, dek, yang mengangkat kita pada perayaan. riuh-riuh orang, dan degup jantung, dan lamat-lamat layang-layang putus. kricaklah, dek, yang merayakan kebaikan impian-impian hitam dan kutuk banci kaleng sepanjang kali situ. betapa kesedihan begitu licik, dek, membawa semangat pada putus asa, dan rasa menyerah, dan sebangsanya.



kricaklah, dek, yang menyelamatimu atas keberhasilan yang takarnya tak cuma duit dan duit, atau seberapa dikenal namamu, atau seberapa magrong rumahmu. namun, seberapa bersungguh-sungguh dirimu pada hal-hal baik. dan betul. man jadda wajada. siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil !


2014


*pertama kali tulisan ini kupos iseng-iseng di path, sebagai salutasi keberhasilan adikku melewati tes pertamanya sebagai artist keren (hehehe). tapi, seperti kamu tahu, tiap tulisan punya nyawa dan takdirnya sendiri. dia tidak mau tinggal di timeline path saja, dia ingin dibaca, dia merengek minta diunggah. kebetulan blog seadanya ini sedang giat sekali mengingat kampung kanak-kanak kami, kricak kidul, sebelum siap untuk merayakan gegap milestone tiga windu ultah pernikahan bapak ibu. demikian, semoga kamu senang membacanya :)





Senin, 10 November 2014

Buat November: Boston- Kricak

Buat November: Boston- Kricak


inilah kenapa aku
menaruh waktu padamu


derap itu. senyum nanang, umpan iyak ke kaki gani.
bola plastik bergulir lambat. rumah tinggi, debu pasiran.
debum jatuh kami di sana, dalam keriangan.


waktu serupa kopi yang dituang pelan
di cangkir venti. kue pisang, kudapan lain hadap-hadapan.
kenangan berlalu belumlah tandas.
coba ada tempoyak..


riverside. arlington. boylston
hujan angin mendinginkan arteri.
batako di sepanjang chinatown
serupa tukang cerita
yang kelelahan


boston amat beku,
kricak kembali diputar
: sore kami tegap dengan layangan.
senar gelasan menyayat pelan.
rindu nanar memantik air mata
di busung dada


merah jenar mega situ
kepak bangau nuju tenggelam
gema adzan dan lengking manis bapa muazin
niscaya kricak larut di senjahari
dan kami pulang mandi


pupur, meja belajar,
ibu nasihatkan pentingnya aritmatik.
seiring dengan itu-
para banci keluar
bersama laron di lampu jalan


pada relung bathin, dikau tahu betul
kopi ini makin hangat
makin menggenang
kian curiga pada bisik-bisik
langit mendung


dan november,
apa kabar gerangan


salam.


Brookline,
11.2014

Minggu, 09 November 2014

Remembering Days In The Past




Remembering Days In The Past
( Upaya Mengingat Waktu-Waktu Kemarin )
Kartogeni 2014, Acrylic On Canvas


begitulah abstraksi, ia tak membawamu pada bentuk yang jelas. di bagian tengah aku giat mengingat klodran, sepetak lapangan bekas di depan joglo pekarang, dirimu yang mengada-ada, dan dusta yang terpelihara baik-baik. 
di pinggir situ kau bisa lihat juga layang-layang kidal, gani yang kasmaran, bu nyoto yang pendendam, benang yang bundet, dan sirah yang cupet, dan mercon bumbung. 


selebihnya, bukankah cuma cintamu yang sering disebut hangat-hangat tahi ayam? #xaxa

Jumat, 07 November 2014

Hujan. Hujan

Hujan. Hujan


entah berapa kali sudah
aku menulis tentang hujan
kemudian menyanyi sendiri
di bawah payung dan dian
temaram, mumpung sore


gulita dan badai masih ada


di lain tempat. gereja 
mulai gelap
abad-abad semakin liat
lindap berkelindan di
wadah waktu yang
hampir koyak 


wajah-wajah pendosa
meminta ampun pada gusti
liwat bilik pengampunan
santo petrus, gereja itu


aku melihat sendiri


tempat paling senyap
bagi umat dan padre 
di musim hujan begini


di manakah kamu
di manakah keadilan
dan cinta tanpa dendam
yang mengakar?
bila tidak kutemu di jiwa
palung paling dalam
biar aku menyembah hujan


dan bersedih juga di situ.


2014





Jumat, 31 Oktober 2014

Sajak Di Hari Mendung

Sajak Di Hari Mendung


maka kucabut juga alang-alang
yang tumbuh di
pulau-pulau kecil
tubuhmu situ


dalam suatu cerita purba di kepalaku,
hutan adalah tahun
yang mengeras
sebab cinta tak terbalas.
ia membisu dengan pamit
paling pedih.


****


kemudian ekor api datang dari langit
melesat cepat seperti racau panjang
mulutmu yang bohong


rindu cepat mencegahmu dari
marah-marah. tapi itu saja tak cukup


1/
di mimpiku aku mendengarnya jelas.
dengung suaramu.
lenguh di kuping pacarmu.
seolah-olah kepadakulah
semua dituju


bintang bergerak-gerak
kaca kamar. jendela kamar.
pusing berita gelap.
dendamkah itu?


2/
aku tiada takut
pada kehilangan
pada kesunyian.
sebab sendirilah aku
jadi daif di antara
kesalehan yang liat


3/
kupu-kupu pincang
kau telah seratus kali
menginjak kecoa lemah
namamu akan membatu seperti kencing
menyaru dalam kabut pagi-pagi betul


kemudian kau
bangun sebelum salak anjing hutan
tiga kali kokok ayam
sekali jerit tangis mama


matamu berkhianat lima kali
lebih cepat dari indera tangkap lumba-lumba


****


Pada akhirnya
pikiran dan jiwamu sendiri
tumpul. lumpuh.
selama-lamanya.


Brookline,

31 Okt 2014

Yang Jenaka Dari Kesakitan

Yang Jenaka Dari Kesakitan


kamu terlanjur
membuang rindu
di hati orang


maka akulah
bank bankrut yang
sudah lama putus asa


di sekitarku muncul
lintah darat
menyapu lidah


menawarkan
tai kucing
setengah matang


dan pada mereka
kupekik ludah kesat
: sakit tau !!!



2014

Selasa, 28 Oktober 2014

Saya dan Sepakbola, Tuan

Saya dan Sepakbola, Tuan


saya ada di sana, di pertandingan itu
saya hampir menangis waktu nasib tim kami hampir buruk sore itu
beruntung gol datang, tuhan baik, malam cemerlang, semua makanan terasa lezat nan enak, lebih dari itu. tim kami menang


anda akan sulit membayangkan
kenapa sepakbola demikian menguras perasaan
padahal pada banyak pertandingan, hasil-hasil mudah ditebak dengan prasangka jelek


anda akan sulit menerima, kenapa kami suka jadi brutal tiba-tiba
padahal kami baru saja datang dari masjid, dari gereja, dari doa-doa kamar


saya ada di sana, ketika stadion mulai gelap
ruh ruh gemuruh tribun mulai singup
pertandingan usai, peluit dibunyikan, wasit telah kelar menjadi gusti, dan kini mungkin sedang leha-leha


anda tidak ada di sana
di hari ketika tim kami hampir tak punya apa-apa
ketika para pemain sama miskinnya dengan kami
dan semua perangkat pertandingan
malih rupa jadi vampir-vampir penagih hutang


saya ada di sana, anda tidak


saya hampir menangis,
saya laki-laki kalah
yang datang ke stadion untuk melupakan nasib buruk
dan kisah cinta murah meriah


saya bisa merapal nama mereka
lewat sejarah yang berulang


dan sepakbola. dan sepakbola
adalah kemungkinan-kemungkinan gampang
bagi kami yang ingin beranjak dari kesedihan


anda perlu mencatatnya, tuan.



2014



Minggu, 26 Oktober 2014

PSS: Kenapa. Sudah, Itu Saja.

PSS: Kenapa. Sudah, Itu Saja.



Ada banyak hal yang tak bisa kujelaskan di hidup ini. Salah satu hal itu berupa pertanyaan: kenapa. Kenapa meskipun aku tahu sumber kesedihanku, aku tetap merasa sedih? kepadamu biar kubagi, cuma supaya kamu tahu.


Seantero Massachusetts sedang dingin. Tiap jejak langkah takkan menghindarkanmu dari angin yang menembusi tulang. Jaketmu boleh saja tebal, upayamu menutup tubuhmu rapat-rapat boleh maksimal, tapi musim dingin tetaplah musim dingin. Kamu mesti menghadapinya, sebab dia punya kuasa lebih tinggi daripada kehendakmu. Kehendak untuk “mbok iyao hawanya anget terus.”
  

Ah..


***


Kemarin PSS bertanding melawan Semarang. Seperti hari pertandingan PSS lainnya, aku bangun pagi dan bolak balik menengok telepon genggam. Twitter, WhatsApp, Twitter, WhatsApp. Keduanya memberiku informasi, keduanya terus kuikuti. Sampai aku tertidur lagi, terlalu capek, nol-nol. Aku tidur dengan perasaan aman. Timku sudah pasti lolos ke babak semifinal, siapapun lawan di semifinal terserah, aku punya keyakinan tebal kalau PSS akan lolos ke ISL.


Ketika sesuatu mengecewakanmu, tubuh dan pikiranmu akan bereaksi buruk. Dugaan baik tidak banyak membantumu, kamu terlanjur kecewa. Ketika pacarmu berkhianat, dadamu akan langsung penuh dengan amarah, dan kamu ingin mendampratnya habis-habisan. Seakan-akan kamu orang yang paling pantas mendaku kecewa, berhak mendaku sedih, layak mendaku dikhianati.


Begitulah kira-kira, kamu tahu, kan?
Sebangun tidur, perasaanku persis begitu. Aku dan kawan-kawan penyuka PSS di grup merasa malu dengan kabar PSS menang 3-2 atas tamunya PSIS, semua gol tercipta lewat bunuh diri. Aku mencoba mencari kata-kata untuk menjelaskan kepadamu perasaanku, tapi tak ketemu. Ada yang sesak di pikiranku, ada kecamuk, dugaan buruk yang mengular seperti macet Yogya di panas suatu siang. Di timeline twitter semua orang membahasnya, dan semuanya seolah mengejekmu, dan kamu tersudut. Belum selesai memar di bathin kemarin, penghakiman itu datang lagi pada tim ini. Ada perasaan letih, capek, malas berjalan, sudah sajalah, dan lain-lain.


140an notif Whatsapp, kebanyakan dari grup. Ada berita gemilang, ada rutuk dan maki-maki. Pagi yang susah dan komplit. Wulang Sunu, kawan kecilku, baru saja membuka pameran seni bertajuk “The Marmos” bersama grupnya di Sip Club. Itu berita baiknya. Berita jeleknya, semua kawan marah pada PSS. Orang-orang di luar bersorak senang menghakimi PSS dengan keras sekaligus malu-malu, dengan membawa tombak pedang moralitas; atas nama sepakbola yang sportif nan suci, mereka menganggap tim ini baru saja melakukan dosa besar. Kutuk kekecewaan seperti hujan deras. Gol Awang dan Hermawan PJ ke gawang sendiri itu, bagaimana bisa? Kenapa tega? Orang-orang tiba-tiba saja merasa lebih berhak kecewa daripada kami.


PSS. PSS. PSS. Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil.
Namun wahai manajemen PSS, wahai pemain-pemain PSS.
Kenapa?


Aku kecewa. Aku marah untuk dua gol bunuh diri yang hampir membuat tim ini kalah dan jadi runner up. Aku marah atas ketakutan kalian pada Pusamania, padahal kami punya kepercayaan yang amat besar pada tim. Kepercayaan bahwa banyak dari kami akan jadi panji-panji yang berdiri teguh di semifinal- akan mengantarkan kebanggaan kami ini mengalahkan Borneo dengan pekik nyanyi perjuangan. Di banyak keyakinan dan doa-doa kami, kami percaya bahwa kalian punya cukup kekuatan untuk mengalahkan Borneo. Tapi. Tapi..
Kenapa?


Kata Murakami, “ Tiada kebenaran, tiada ketulusan, tiada kekuatan, tiada keramahbaikan, bisa mengobati kesedihan. “
Oh pahlawan-pahlawan yang kami seru tiap waktu tanding.
Kenapa?


Buat Denis, Tomy, Mancing, dan kawan-kawan Canisiuso 1976, kalian berhak malu. Kalian boleh mengurung diri di kamar dalam pertanyaan pada Gusti: kenapa Awank dan Hermawan PJ sudi melakukan gol bunuh diri? Kalian punya hak begitu karena banyak alasan. Sungguh, atas nama tidak pernah absen mendukung di Maguwo dan dingin bis tanpa kaca jendela di laga away dan ujud-ujud kesetiaan lain, kalian berhak menangis. Kekecewaan adalah kekecewaan. Titik. Dan semoga kita semua segera sembuh dari perasaan begini. Perasaan lowong dan lumpang dan malas makan. Hih…



Brookline, 10 Oct 2014



Kamis, 23 Oktober 2014

Buat Tejo

Buat Tejo

: dan masa kanak-kanak kami.


kita tak pernah
bertengkar lewat anggur merah


cuma percikan
api di antara urat
lidah ini. kau, aku, kau, aku.
kita. cermin. kita.
batok batu sama keras sama kecandak


kisah muram jelma
deret skena film jelma
kekalahan jelma
kewirangan jelma
perkawanan


maki-maki. dari gowongan ke
minggiran dari demangan ke minggiran
dari dagen ke kricak
dari yogya ke jakarta
sampai juga kita di boston.
di cannes. di gelap lorong-lorong
ch√Ęteau de la napoule


kepadamu biar kubagi
masa kecil kurang
serba kurang
genang akuarium kecil
tingtong bel rumah
tanpa tamu sesiapa
siang paling lena
dan aku menangis


penderitaan adalah
abadi yang abadi


setiap orang menanggap
wayang di kepalanya
dan berjalan
tetap dengan tapak kapalan
kura-kura kaki melepuh mata kaki berair


kaki nini mencintaimu
dengan sungguh


sehingga curam pandang
tebing di awan-awan
cuma milik kau yang
menyimpan duka
di ulu hati paling sendiri


sudahkah hari ini
kau memandang langit
dan membentak drama-drama
sialan di galaksi seluas
kepalamu itu?


maka rayakanlah.
rayakanlah.
rayakan.


selamat ultah.


Brookline

Oct 20, 2014