Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Senin, 07 Januari 2013

Malaikat dan PSS Sleman ( Bagian Satu )

Malaikat dan PSS Sleman ( Bagian Satu )


Bolehkah saya berbagi cerita dengan anda? dengan pembaca yang mana saja, yang saya tak tahu nama-namanya, datang membaca dari mana dan lewat mana.

Entah tahun berapa, kira-kira saya kelas 7 (Sekolah Menengah Pertama). Ada kejadian yang sampai kini masih tersangkut di benak saya, saya kadang lupa kadang ingat. Namanya juga tersangkut, ada di situ terus, tapi saya tak pernah menguliknya. Bayangkan ada celana dalam tersangkut di pohon mangga di depan rumah tetangga. Tiap saat saya melewatinya enggan mengambilnya. Apa urusan saya? kira-kira begitu. Saya cuma suka memandangnya dari jauh, sebab rasa suka saya ini tak harus ada sebabnya.

Tapi lama-lama kok saya makin cinta, ingin rasanya saya menulisnya dalam sebuah cerita, biar bisa saya miliki dan bagi-bagi. Maksudnya ceritanya, bukan celana dalam di pohon mangganya.

Di Jokja (kalo kita menyebut Jokja, rujukannya pasti DIY, atau Jokja dan sekitarnya) ada tiga tim sepakbola yang punya basis tim pendukung fanatiknya masing-masing. Zaman saya masih duduk di bangku sekolah menengah, PSS Sleman menjadi salah satu yang paling moncer dan dikenal, PSIM Jogja masih berjuang di divisi satu dan Persiba Bantul masih entah di mana. Menonton pertandingan PSS menjadi satu rutinitas suka tak suka yang ada di diri saya ini. Maksudnya suka tak suka: saya rela datang tiap PSS bermain, dan rela melihatnya kalah meski rasanya tak enak.  Datang dari tengah kota Jokja ke Tridadi bukan perkara mudah, apalagi waktu itu uang saku saya minim- habis untuk transport ke sekolah dan balik ke rumah. Setiap hari PSS tanding, saya selalu dihadapkan pada pilihan: membeli jajan atau menonton PSS. Pilihan sederhana namun sulit. Saya tidak selalu memilih pilihan nomor dua, tapi hari itu saya memilih tidak jajan.

Dengan uang seribu perak, saya buat sebuah rencana sejak dari sekolah: naik bis Jogja-Tempel dengan satu ribu itu, turun di depan lapangan Denggung, kemudian jalan kaki ke Tridadi. Lalu bagaimana dengan tiket masuknya? Bagaimana pulangnya? Saya abaikan bagaimananya. Saya masih kecil- keinginan kuat namun kemampuan kurang.

Hari itu, saya lupa PSS melawan tim dari mana, saya benar-benar lupa. Tapi saya tak bisa lupa soal satu ini, soal saya bertemu kejadian yang hari ini masih terus terpatri di ingatan saya.
Untuk masuk Tridadi tidak mudah, sebab pintu masuk dijaga oleh orang-orang kekar berbaju hitam. Di benak saya: bagaimana bisa menjadi seperti kertas tipis menyelinap di antara ketiak bapak-bapak penjaga itu, sehingga saya bisa lolos masuk dalam stadion?

Di luaran anak-anak kecil melempar sandal ke dalam stadion lalu memanjat batu-batu tembok stadion. Jika berhasil mereka bisa menonton gratis, kalo tidak ya harus mengulang. Perjuangan selalu seperti itu, kan. Waktu mereka memanjat, dari bawah biasanya mereka dilempar batu oleh petugas-petugas stadion dan polisi.

Saya lolos ! Saya bisa jadi kertas di antara ketiak bapak-bapak portir ! Tubuh saya yang kecil terselip di antara penonton single, jadi petugas portir mengira saya anak penonton tadi..

Bersambung bagian dua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar