Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Senin, 07 Januari 2013

Malaikat dan PSS Sleman ( Bagian Dua- habis )

Malaikat dan PSS Sleman ( Bagian Dua- habis )


Di dalam Stadion, saya berdiri di antara Slemania, bernyanyi mengikuti leader yang berdiri di atas stager warna hijau. Saya tak pernah benar-benar menonton pertandingan, saya suka menghabiskan suara dan menahan haus. Sebab saya percaya dukungan kami sekiranya benar-benar berimbas pada semangat pemain-pemain di lapangan.

Di waktu turun minum, para suporter juga berhenti menyanyi. Mereka mengambil waktu jeda dengan minum air, makan arem-arem, atau tahu. Sayup-sayup, "Tekno ngopo lik? Ora popo ya? " Satu orang minum air sambil bicara dengan aksen Sleman yang kental, membuat saya kesal. Bagaimana tidak? Saya haus dan tak punya uang ! Saya clila-cliliclinguk kanan clinguk kiri. Saya tak sedang sadar, bahwa diam-diam ada yang mengamati saya. Seorang remaja kira-kira sedang di awal duapuluhan, berambut gondrong, dan membawa botol Aqua besar.
"Dek, dari mana dek?" Tanyanya.
"Dari Kricak," Jawab saya.
Setelah perkenalan singkat, ia menawari saya minum. Ia menanyai saya tentang bagaimana saya datang, dan saya jawab sejujurnya. Saya punya seribu rupiah, saya datang menonton PSS Sleman, dan saya tak terlalu mikir caranya pulang. Tampaknya lagu Slemania yang liriknya benar-benar saya hayati adalah lagu dangdut Si Putri yang liriknya diubah menjadi: " Kami Slemania, mendukung Super Elja, datang kemari untuk berikan dukungan. RASA LELAH JADI HILANG TEROBATI BILA MENANG (ayat yang saya beri kapital memang benar-benar saya hayati)." Pada obrolan singkat kami, mas ini menawari saya pulang bersamanya, ia bilang rumahnya searah (dulu saya percaya begitu saja, sekarang saya tak percaya-percaya amat).

Ia mengayuh sepeda, saya duduk di besi tubuh sepeda, kami menuju rumahnya yang entah di mana. Kami susur Tridadi- Jalan Kabupaten. Di jalan kami ngobrol banyak hal, tentang hidupnya dan hidup saya secara samar, tentang PSS dan pemain-pemain idola kami. Tentang Marcelo, tentang Deka, tentang leke. Tentang Kahudi, tentang Wahyu Teguh, dan lain-lain. Langit maghrib menyelimuti perjalanan dua orang tak saling kenal tapi mengobrol apa saja. Ada perjalanan yang rasanya terisi waktu itu. Dalam bahasa spiritual Mircea Eliade, mungkin itulah arketipe surgawi.

Di perempatan dekat rumah saya turun dari sepeda. Segera saya pamit pulang.
Belum beberapa menit jalan menuju rumah yang berjarak sepelemparan salak, saya ingat bahwa terimakasih belumlah terhatur.
Saya mencoba balik arah, ingin mengucap maturnuwun. Tapi ia terlanjur pergi.

Sekarang ia di mana? Entah. Dia siapa? Entah. Saya kadang membayangkan kami akan bertemu lagi dalam suatu kesempatan yang mana saja, dalam soal-soal berbeda selain sepakbola. Tapi tampaknya Sleman terlalu luas untuk kami berdua. Hari itu saya lupa skor berapa-berapa, pertandingan jalannya bagaimana, dan hal-hal soal sepakbola lainnya. Tapi saya tak akan lupa hari di mana sepakbola bukan hanya menyatukan manusia dan manusia, tapi juga manusia dan malaikat.

Mungkin saja ia malaikat...

2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar