Aku dan Kamar

Aku dan Kamar

Sabtu, 28 Desember 2013

Orbituari: Kang Maryono

Orbituari: Kang Maryono


Barangkali, inilah yang dinamakan keyakinan: mengubah gaya hidup dan mempercayai satu hal sebagai satu tongkat penuntun yang baru. Begitulah kira-kira sikap Maryono yang mengundang takzim bagiku pada hari ini. Maryono, seperti kebanyakan orang, merupakan pribadi yang gersang di mataku. Aku tak begitu kenal, kecuali dari sekelebat lakunya sepanjang delapan tahun terakhir di hidupnya. Namun bukankah simpati, apalagi pada kehilangan, boleh datang dari siapa saja? Aku masih kelas 2 SMP ketika Maryono memutuskan untuk bergereja di gereja kami yang mungil. Aku kecil baru saja mendapat motor Astrea Grand lungsuran dari kakak sepupu yang baru lulus sekolah menengah. Layaknya anak seumuran lain yang sedang gemar-gemarnya naik motor, aku kecil tak kurang ide untuk mengakali keterbatasan. Motor lungsuran itu langsung dimodif seadanya. Jangan bayangkan knalpot Yoshimura, velg racing, atau hal-hal mahal semacamnya. Aku kecil memutuskan membeli cat kayu seharga tiga ribu rupiah untuk melumuri banyak bagian motor dengan ornamen sesuka hati.

Maryono, seorang simpatisan gereja yang waktu itu sangat kerap berkunjung ke rumah, yang menawarkan bantuannya padaku utk menceperkan motor dan mencangkok slebor depan Astrea Grand dengan slebor Supra X, harapannya supaya motor jadul itu tak kelihatan ketinggalan zaman amat. Aku membeli slebor supra di Klitikan jalan Mangkubumi, yang kini sudah dipindah ke Kuncen, dengan harga lima puluh ribu rupiah. Waktu menunjuk kira-kira jam tujuh malam, Maryono mulai dengan gegas sekaligus ringkas membantuku melakukan make over motor dengan cara seadanya. “Untung ada Kang Maryono,” pikirku dalam hati. Tanpa ia, tentu niatku mengubah motor grand menjadi semi modern itu tak akan sampai.

Selain ingatan tentang itu, tak ada yang benar-benar personal. Ada jarak di antara kami, seperti aku mencipta jarak pada orang-orang banyak yang tak begitu kukenal. Ada kemungkinan lowong yang tak kami pelajari sebagai manusia yang bisa berteman dekat. Aku, meskipun blangsat dan urakan, selalu percaya bahwa lewat bergereja aku bisa menemu Tuhan. Di sanalah aku tak hanya menemu Tuhan, tapi bertemu Maryono juga, aku lazim memanggilnya “Kang Maryono.” Seorang sederhana yang sangat rajin ke gereja, hampir tak pernah melewatkan misa panjang di gereja kami yang mungil. Gereja kami di pusat kota Yogyakarta, sedangkan rumahnya di pelosok Magelang, tepatnya di Grabag. Tampak di mataku bahwa jarak adalah perkara hati baginya, bukan panjang ruang atau ukuran seberapa jauh. Aku banyak berhutang rasa padanya soal ini, sebab aku kerap menganggap jarak sebagai sesuatu yang sangat sakral, sesuatu yang paling penting untuk disiasati dalam hubungan antar manungsa.

Sekali ia menceritakan pengalaman spiritualnya, bahwa ia merasa damai tiap kali berdoa, dan inilah yang membuatnya sangat lekat dengan hal-hal gereja. Ia tak jarang membawa lima putrinya yang cantik semuanya ke gereja, meski dalam pelbagai keterbatasan. Mungkin inilah yang dinamakan orbituari. Kumpulan akan ingatan baik, tak ada keburukan dan seakan-akan dalam orbituari itu orang jadi paling sempurna dan lengkap. Bukankah benar, puzzle bisa dilihat jelas ketika sudah terangkai? Aku percaya bahwa simpati pada kesedihan boleh datang dari siapa saja. Termasuk aku, orang yang bukan siapa-siapa tapi merasa kehilangan. Begitu mendengar kabar berpulangnya Kang Maryono, aku langsung memutuskan menulis, menangkap apa-apa saja yang pernah ada dalam ingatanku yang seadanya. Untuk siapapun yang membaca, kuanggap kalian juga ikut mendoakannya. Sebab tulisan, betapapun jeleknya, adalah doa juga.

Terima kasih untuk bantuannya pada motorku yang lawas itu, kang. Kuantar kepergianmu dengan tulisan, sebagaimana orang Yunani berkata pada kematian dengan lugas sekaligus halus, “Eonia i Mnimi.” kekallah kenanganmu.

Sabtu, 21 Desember 2013

Hidup dan Politik yang Sengau

Hidup dan Politik yang Sengau
: Camellus Julio, Pradipta Eka

bila kita tak tahu soal politik
biarlah kita tahu soal diri kita masing-masing
bila kita tak tahu arah angin
biarlah kita tebak hujan mana yang sanggup meruntuhkan iman kita,
yang kecil, yang muram,
yang kikuk di depan satu kata ini: khianat

kelak diri kitalah yang tahu juga
bahwa waktu itu nisbi
hidup ini titik, dan titik itu ialah sekarang.
keniscayaan yang terperam di malam paling sunyi.
adapun hari lalu dan besok juga di titik itu
dan kita kawan untuk
perjalanan-perjalanan dalam ingatan yang cuma-cuma

pss sleman.
indonesia.
sepakbola.
lengking riak dalam suara kita
kemenangan di tangis kita.

sumpah serapah itu
juga cuma-cuma

Brookline,
122013

Satu Kali di Hidup Kita

Satu Kali di Hidup Kita
: Ragil Wibawanto

bukankah pikiran kita lebih
baik menguap?
sebab telah banyak
kesedihan dan pertentangan
di antara tembikar dan tukang periuk,
di antara tuah kayu salib yang kauyakini benar.
sebab juga kebencian sering tak tuntas disikat
tajam tatap para pacar di mata mereka yang
netes diam-diam

masa lalu itu, gil
adalah bincang di lorong
kelas kita yang panjang.

bukankah kenangan kita lebih baik menguap?
sebab cuma induk ayam yang memeram penyesalan selama dua puluh hari.
selebihnya diri kita yang sering kikuk pada jarak, jenjang kaki cinta-cinta baru

dan satu kali di hidup kita,
marah-marah itu benar ada.

Brookline,
122013

Senin, 09 Desember 2013

Jalan Godean Itu


Jalan Godean Itu

: Aria Duta


di sekitaran situ
macet pagi adalah wajar pupur
paras bocah-bocah sekolah,
mereka itu menyimpan mimpi semalam
untuk cerita di kelas matematika yang sumpek.
seperti motor bebek kita, adalah
sampan untuk cerita via, tia, di hidup kita yang kanak-kanak
bagaimana cinta itu gegar ombak, amuk angin, yang 
boleh datang dari arah mana saja
dan kita mesti menyerah pada
kebohongan. pada kecap orang ramai


cuma butuh lima menitan
untuk tahu ringroad sebelum pingit
untuk tahu kerinduan sebelum mantan kawin.
kelak itu akan jadi hal paling brengsek


di mirota kita tahu, dulu, tak ada lampu merah
menyeberang situ cuma perlu kematangan
menghormati khalayak- pejalan
yang menyita umur mereka
saban pagi 
di situ-situ saja


jalan godean, dut
adalah kenangan kita untuk
Yogya kuna
yang magis manis 
dan menyenangkan


Brookline 
122013

Selasa, 03 Desember 2013

Sajak Kangen ( Koyone Kangen Tenan )

Sajak Kangen ( Koyone Kangen Tenan )

kota ini berjarak seribu kilo dari matamu
tapi tak secenti pun pernah kautempuh aku
dari angan-anganmu
barang semalam

di sini ada pikiran yang koyak tentangmu, gedung-gedung tinggi, senyum orang mandi
dan bintang jatuh kunikmati sendiri di taman kosong

waktu mengayak kenangan orang baik
di tampah tua milik
ibu di kota lama

juga cinta, ia memberiku satu periuk nasi, tiga tahu susur, dan lima lombok rawit.

biarkan aku simpan kangen
dusta dan mimpi-mimpi di bawah bantal
biar kubawa dalam tidur
dan ciuman kepadamu di mimpi menjelang subuh

Brookline
0412013

Rabu, 27 November 2013

Ulang Tahun Hujan

Ulang Tahun Hujan


tunjukkan satu hal yang akan megajarkan aku untuk jadi lelaki yang tenang. maka tak salah kalau kau kemudian membawaku pada cemara di hujan rembes atap-atap kota. kau mencium aku dengan satu tangan tetap teguh memegang rok yang berusaha kusibak. "untuk sebuah ketenangan, kau perlu ciuman yang merangsek ke segenap mukamu. " bicaramu begitu lembut seperti peluh-peluh gerimis yang kuyup di sekujur mukaku yang selalu kesepian.
mula-mula aku selalu goyah, takut pada kecemasan yang dibawa mendung tiap kali ia datang mengetuk jendela kamar kayu milikku di kota jauh. "bila kau terus menangis untuk kita yang selalu gagal bercinta, ambillah ini seputik puting sebelah kiri, kaubisa bawa kemanapun kau hendak pergi. tapi tolong jangan kembali lagi pada sembab tangis di hari-hari besok. aku adalah hujan untuk kerelaanmu yang setengah-setengah. "
kau tak pernah salah, seperti setiap kepergian yang tiba-tiba. kau cuma air yang datang dari langit untuk petani yang setia, tukang kebun yang penuh doa, dan bukan untuk kekasih siapapun. dan bukan untuk kemarahan pada hal-hal remeh. hal-hal kecil seperti kangen yang berulang. bukan.

ibu kula nyuwun arta, ing njawi wonten kere
kere tua tuwin wuta, sambat ngelak lan luwe
enyoh iki wenehana
sega iwak lan banyu. lan kerene kandanana kon mrene saben dina

: selamat ulang tahun, ya?


11282013
Brookline


Selasa, 05 November 2013

PSS Sleman: Sebuah Cerita Besar

PSS Sleman: Sebuah Cerita Besar


Kau tentu sudah banyak menduga aku akan bicara soal ini, dan kali ini dugaanmu benar. Hari ini adalah sehari jelang semifinal divisi utama LPIS, artinya Super Elja main tinggal menunggu waktu. Kau barangkali berpikir, final dari liga yang sia-sia adalah kebohongan paling wajar yang mungkin bisa dibayangkan. Pikiranmu tak meleset. Tapi ada satu celah yang tak bisa membohongimu, bahwa kebahagiaan tidak pernah berhenti pada kata final, semifinal maupun final itu sendiri. Kau tentu sering mendengar kata-kata ini, kukira semua orang pernah, “ bermainlah seperti semua pertandingan adalah pertandingan terakhir.” Lafleur, legenda Montreal yang mengalahkan Boston Bruins dengan memar di mana-mana yang mengatakan itu. Kukira, tanpa ia yang mengatakannya, kata-kata ini akan tetap populer. Kalau kau tak pernah mendengarnya, paling tidak kata-kata ini pernah terlintas di pikiranmu, “ puasalah seperti ini adalah ramadhan terakhirmu.” Aku tak tahu dari mana datang kalimat demikian, yang jelas keduanya sama-sama merujuk pada the last game, final, pucuk puncak dari sebuah tarekat. Kita tahu sama tahu, keduanya menawarkan kepura-puraan. Lewat kata “seperti”, segala usahamu cuma mentok pada tahap menyerupai. Namun sebagai sebuah motivasi, kata-kata demikian memang sah.


Setiap cinta layak dapat kerinduan paling lamat. Dalam hal ini, kita sebagai pecinta PSS Sleman tentu sadar, bahwa tiap pertandingan PSS yang kita nanti adalah bagian dari cinta itu sendiri. Artinya, jauh bahkan sebelum PSS jadi terkenal seperti sekarang, setiap pertandingan PSS tak pernah main-main. Pertandingan PSS, seperti semua pertandingan sepakbola lainnya, adalah kisah. Ia tak pernah berhenti pada kata “permainan.” Persiapan, jerih keringat, usaha panjang, gol, offside, keadilan, mafia, judi, kemiskinan, gairah, kidung-kidung suporter, semuanya adalah rangkaian alami untuk membuat permainan ini naik kelas menjadi kisah. Seperti kautahu, ungkapan naik kelas dari permainan ke kisah barusan memang ide pokoknya datang dari esai Zen Rahmat Sugito tentang sepakbola sebagai kisah. Seperti semua kisah, ia bisa membawa getir, bahagia yang tiba-tiba, atau keduanya sekali waktu. Sekali waktu di dua piala dunia yang lewat, sebuah yayasan tuna netra menggelar dengar radio bersama. Kaubisa tangkap kisah itu. Terlepas dari segala intrik di sepakbola, pertandingan tak pernah berhenti di situ-situ saja. Sepakbola adalah ujud kesetiaan dan rasa sayang, yang barangkali selalu gagal kaumaknai di luar sepakbola.


Pemain datang pergi, tapi nyanyi dan dukungan kita masih di sini. Stadion pindah sana sini, tapi jiwa kita tetap tinggal di nama yang niscaya, PSS Sleman. Seperti kau tahu juga, musim ini adalah musim keduaku di luar Yogya, kota kecil yang kaukenal sebagai rival atau kakak kandung. Tumbuh di tengah kota sebagai pendukung tim kabupaten selalu mengasyikkan, kau akan menabung segala caci-caci kawan sekampung sebagai doa dan pahala untuk tim kesayanganmu


 Dalam dua tahun segalanya bisa sangat berubah, terutama sorot tajam orang-orang. Kukira pencapaian tahun ini tak lebih tinggi dari pencapaian musim-musim sebelumnya, terlebih kita bermain di liga yang jadwalnya selalu berubah. Namun hegemoni yang diciptakan tentang PSS Sleman sangat jauh dari empat-lima tahun ke belakang. Dua bulan aku pulang musim panas kemarin, aku cuma dapat satu laga resmi PSS di Kuningan. Sisanya laga lawan Persijap yang berlabel ujicoba. Namun hei ! justru inilah yang ingin kubagi padamu, bahwa pertandingan-pertandingan itu sama berharganya dengan cerita-cerita yang kaubaca. Hegemoni adalah selera pasar, tapi aku meyakini ini justru dimulai dari tribun selatan. Ketika tribun selatan menjadi sangat kuat dan lebih besar, semangat mereka menyebar ke mana-mana dan ditangkap oleh siapa saja. Media adalah salah satu bagian saja yang ikut andil menciptakan hegemoni ini. Bila kaumerasa banyak kepalsuan dari ini, kau harusnya balik bertanya pada dirimu sendiri: sejauh mana kautemukan cinta dari PSS Sleman? Pertandingan besok akan kutunggu, selalu kutunggu, dan layak kautunggu, seperti pertandingan-pertandingan PSS lainnya. Penantian ini juga sebagai bahan untuk mawas diri, merendahkan hati dan merenung, pantaskah kita tinggal di hegemoni yang begini besar? Sudahkah kita melatih kaki kita lebih kuat untuk jalan yang mungkin akan lebih blangsat?


Memaknai PSS adalah membaca sajak, membawanya di hidupmu sebagai pelajaran untuk terus terang terhadap perasaan. Sedang cinta itu sendiri adalah ikhtiar yang tak putus, ketulusan yang tak dibicarakan, kesedihan yang sehari lewat, kebahagiaan tanpa harapan, dan apapun istilah yang kaupakai untuk menggambarkannya. Semuanya sampai pada satu nama: PSS Sleman.


H-1 #PSSDAY
2013


Bersama Yugoslav, suporter klub FK Vozdovac Belgrade

Jumat, 25 Oktober 2013

Bagaimana Aku Berjalan ke Matahari

Bagaimana Aku Berjalan ke Matahari


ada hal yang tak kauketahui
tentang kembang flamboyan
dan caraku menyanyi
di kamar
: berbagi kesepian
pada diri dan kilas wajah
di dalam cermin


ada hal yang tak kauketahui
bagaimana aku
berjalan ke matahari
: dengan mewajarkan
setiap cemburu
dan ciumanmu
di muara malam.
hulu hilir tangis
dan muka jati
di anak kali


ada hal yang tak kauketahui
caraku memejamkan bulan
: dengan gelap
dan bisu di ulu hati


ketahuilah,


2013

Selasa, 15 Oktober 2013

Ziarah

Ziarah


kesepian adalah ziarahmu
pada orang ramai
gerimis. seperti katamu
adalah tabuh tangis
yang mengiringinya


ziarahku pada cinta
adalah lima menit lalu
adalah tiga-lima tahun lalu
lima belas tahun
ke belakang
waktu rumah kami
begitu jauh di kota simbah


puisi adalah ziarah siapa saja
kembali pada syukur
cerah pagi
bata batu kena matahari
gegas tupai di dahan-dahan
pula embun. seperti katamu
: begitu meneduhkan


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito

Jumat, 11 Oktober 2013

Kau Di Pengasingan

Kau Di Pengasingan
: nn


satu lagi pesawat cengkareng
pergi dari runway panjang
terbang ke air mata
satu menuju air mata lain.
frankfurt. kota jauh
kali tumbuh. di gereja-gereja tua.
di megah malam dan jerit tikus di atas gedung


" aku akan merajah tubuhku
dengan lukisan di matamu itu,
supaya aku tak kehilangan apapun. "


luther, hitler,
manusia bisa membawa tuhan
dalam suram cinta yang rupa-rupa


tapi tunggu.
bintang jatuh belum datang,
keinginanmu sudah terbenam,
dibawa kemarau panjang tahun kemarin


di sepi selokan, bau vodka, solar
dan muntah perempuan
pesta yang menyedihkan
di balik sabit diseling-seling kabut


atas nama apa.
santa ana. santa ana


tidurlah kau, di antara mendung


2013

Sabtu, 05 Oktober 2013

Surga Di Keto’an Kuku Ibu

Surga Di Keto’an Kuku Ibu


ibuku adalah ibu
yang tak pernah melarang
anak-anaknya makan indomie.
persis seperti semua
ibu di penampungan
gempa dan sebagainya.
tapi cuma padanya kami merasa aman



puisi hari ini biarlah
untuk hari ini.
ini hari ibuku meraup setahun lagi
dari umurnya yang panjang,
syukurlah !
berarti puisi hari ibuku biarlah
untuk ibuku.


ibuku, seperti kau tahu
adalah perempuan yang
bangun sebelum embun
dan tepat setelah kokok ayam,
ia tak pernah mendengar
tiga kali kokok ayam.
begitu setia pada zaman
pada bapakku dan anak-anak
empat bocah paling beruntung, yang lahir
dari kebahagiaan dan riap tangis
malam pekat.


ibuku adalah
untai doa yang tak putus
kata-kata yang
menghasilkan
kebahagiaan
bagi yang mendengar,
umpama puisi sederhana
siapa saja yang menulis
dari hati.


baiklah, ibuku.
ini adalah sajak
kecil bagi hari ini
bagi malam pendek
untuk hari panjang.


selamat !


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito


Senin, 30 September 2013

Apik-Apikan Dari Kami atawa Penggemar Rahasia

Apikan-Apikan Dari Kami atawa Penggemar Rahasia


bapak, seperti kau tahu
perlu kauikuti setiap waktu
gerik-geriknya dari susah
ke susah lain
ceritanya dari jatuh
ke jatuh lain
tentu juga cintanya yang
pada tuhan itu, pada ibu kami itu.


bapakku, ia penangkap waktu
menangkap zaman seperti kupu-kupu
memberikannya pada kami
liwat cerita dan kisah-kisah lalu.
kisah soal kemiskinan, misalnya.
semua orang miskin, kau tahu.
tapi semua orang juga kaya.
kau boleh jadi kaya
sebab cerita dan pikiranmu tak habis
tujuh turunan


kau boleh jadi miskin,
miskin rindu, lengang, dan banyak uang.
tapi kebahagiaan, begitu bapakku bilang
adalah keluarga dan
cinta-cinta di sekitarnya


maka di tahun yang kian tambah
kuberi satu puisi lagi baginya
abjad-abjad hangat di kertas kering. kau tahu


puisi seorang nahkoda,
bagi gubuk kecil dan
lagu hujan di atap kamar.


puisi seorang nahkoda,
di doa khusyuk
yang tak pernah
sia-sia.


Selamat !


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito

Alegori Hidup Untuk Seorang Mati

Alegori Hidup Untuk Seorang Mati


kemarin pagi ia tiada
meninggalkan rindu, kecap lamis, dan
tidak bunga-bunga.
ia tiada dengan
sendirinya
dibawa angin sepanjang
lagu tuan-tuan di cafe
dinyanyikan biduan-biduan
dengan rok
segembung sebelas ikat mawar kuning
di kota ibu, kota baru


ia adalah masa kemarin
yang sudah maghrib
sudah purna untuk hari
yang tak lagi
punya tempat untuk
terang siang
dan lawak keras di bawah
pohon hazelnut


ia dan budinya sudah mati,
kemarin pagi
bibirnya dibawa ke jakarta
dimakamkan di hatiku yang jeru


santa ana. santa ana.


2013

Ilustrasi: Labdo Grahito

Rabu, 25 September 2013

Gerimis atawa Patung Nama-Nama

Gerimis atawa Patung Nama-Nama


hujan jatuh di ujung jalan kembang. kau, kau, dan aku berdiri
di antara perasaan ngambang.
aku menumbuhkan hatiku di minaret-minaret tinggi,
menyerukan salam dan mendoakan nama-nama di tiap awan lewat.
santa ana. santa ana.
kau menangis di pojokan park street, meminta perhatian
pada tiap tapak kaki jalanan kosong, bekas ban bis-bis tadi
siang, dan segala erangan orang-orang malam.
darah. kau menuang darah dan meminum anggur, memecah roti
dan melahap daging-daging merah.
cinta. cinta menenggelamkanmu pada mata kunang-kunang
di seberang taman situ: santa ana. santa ana
puting susu kekasihku telah membatu.


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito

Selasa, 24 September 2013

Bis Lajur Lima

Bis Lajur Lima


apa lebih berharga
selain kesetiaan?
kesetiaan pada masa silam
pada dingin-dingin ronda malam
pada muram durja wajahmu sore waktu
pada jam sebelas siang
pada bel istirahat kedua


bis lajur lima,
kopata nomer lima.
tak lagi kujumpa
di sekujur jalan


di depan kopertis sana
sama juga
kelas empat limaku hilang
dimamah air mata
dan asap-asap hitam.


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito







Selasa, 17 September 2013

Jejak Tuhan Kemarin Itu

Jejak Tuhan Kemarin Itu


tiga tahun lalu membekas di jalanan haneda
ada bapak ibu dan tahun baru
belum ada sedih pandit buat biru
belum ada PSS sebesar ini
denis yang naturalis, dimi dan kecambah,
despina begitu manis


kawan-kawan di sudut jalan, pada tiap prapatan,
protelon, dan jalan-jalan layang
bumi, origen, dan kitab-kitab
agustin, apologetik, dan macam-macam
wulang, tugu, dan kepulangan


Santa Ana. Santa Ana.


atlanta, new jersey,
turkey dan makanan-makanan pesta.
shalem dan kutuk-kutuk tukang tenun.
hilanglah, dibakarlah.
kesedihan di sepanjang jamaica way


kutitipkan jejak-jejak kecemasan jelang malam
waktu brookline sepi dan beberapa pikiran
pergi merantau
seperti aku, di negeri sabrang


mantra Indian lalu suku-suku sekitar
di antara mereka tak ada
yang bisa singkap
: ruh kita simpan rahasia.
bulan bintang matahari
dan cibiran orang
mataku dan matamu di sebuah
petang marah-marah
di pagi kabut embun
dan ciuman pekat


Santa Ana. Santa Ana


Tuhanku hari ini.


2013


Ilustrasi: Labdo Grahito


Kamis, 29 Agustus 2013

Orang Gila dan Manekin yang Sumir


Orang Gila dan Manekin yang Sumir


“ Beberapa hal kupercaya akan membuatku lebih mencintaimu:
bunga krisan dan pohon perdu
yang merahasiakan wajahmu dan rindu-rindu sepanjang waktu “


Surat kecil itu terselip di sakuku, masih. Kekasihku memberi itu ketika kami baru saja putus dan ia marah besar. Di antara kami tak ada dendam yang terus atau rasa pahit yang panjang. Tapi seperti semua kisah kasih, ia pergi jauh setelah kami putus. Ia enggan menemuiku, aku juga kecewa dengan perpisahan. Seperti kekecewaanku pada semua ucapan selamat tinggal.


Sejauh kau mengayuh sepeda tua, sejauh itu kau akan menemukan rumah baruku. Rumah luas di sekitaran hutan, jauh dari apa saja yang hingar, termasuk kegelisahanmu yang luar biasa sengit. Aku tinggal di rumah yang jauh sekarang, sejak perpisahan kami, segalanya tampak jauh lebih biasa dari apapun sebelumnya.


Sejak malam itu, aku dan kekasihku tak pernah berkirim kabar. Kami dulu suka bertemu begitu saja. Aku suka memandang tahi lalat di dekat mata kakinya sebelah kiri, dan ia lebih suka menangis di depan mataku. Jauh sebelum beberapa hari sebelum perpisahan kami, ia mencoba mengucap janji-janji sederhana. “ Aku akan selalu mencintaimu, akan selalu begitu,” kau tahu, ia punya suara lebih halus dari batik sutra yang biasa dibeli ibu di pasar siang. Kain dingin sebagai selimut tidur menjelang kokok ayam.


Betapapun sudah lama kami tak bertemu, kekasihku tetap menggelisahkan. Ia mengecewakan, menyakitkan. Lebih menakutkan dari macan manapun yang akan kautemui di hutan. Aku terlanjur ingin melupakannya dan sebisa mungkin membuang wajah dan ceritanya jauh-jauh dari pembuangan sampah paling jauh yang mungkin kaujangkau. Mungkin di TPA Piyungan, TPA Bantar Gebang, atau mana saja yang aku tak akan pernah ke sana. Biar namanya tinggal bersama ton-tonan sampah yang kelewat biasa dibuang orang kaya dan disyukuri pengais-pengais berkat-para juara kompetisi bersyukur itu.


Tuhan tak pernah terlambat dalam memberi senter, dian kurung, obor, atau apapun yang menenerangi jalan panjangmu ke depan. Kau tahu, aku dan kekasihku mensyukuri bibir lebih dari apapun di dunia ini. Sebab lewat itu kami bisa mengarang cerita, berbohong, marah, menciumi apapun yang membuat kami geli, dan membual sehingga kami tambah akrab. Menjelang perpisahan kami, ia bisu. Ia memang tak banyak bicara, suka memandang bintang ketika orangtuanya sudah tidur, atau ketika orang-orang kampung selesai ronda malam.


Kami dipertemukan lagi pada siang yang panas, ketika para ibu melarang anak-anaknya minum es tapi mereka sendiri melanggarnya. Sudah tiga puluh tahun sejak perpisahan yang membuatku membencinya, sangat membencinya. Kau tahu, akan sulit memaafkan kekasihmu yang tiba-tiba pergi sedang ia sadar kau masih mencintainya. Tentu, aku masih mencintainya ketika kami berpisah. Ia sangat tahu hal ini.


Dan sejak perpisahan itu, sebenarnya aku tak langsung bisa melupakannya. Aku rajin pergi ke pameran buku, membeli macam-macam buku motivasi cinta dengan judul yang memberimu harapan untuk bangkit. Bangkit Dari Keterpurukan, Lekas Sembuh dari Luka Hati, Tujuh Cara Melawan Tanda-Tanda Patah Hati, dsb. Dari semua itu, aku paling suka” Cara berkomunikasi lewat Bathin.” Aku gemar berdoa, menyukai doa sejak kecil. Sebab lewat doa, aku percaya bahwa segala harapan dan caci maki banyak orang bisa sampai kepada siapa saja yang mendengarnya. Entah santo, santa, malaikat, dan segala hal yang gaib.


Sejak aku merasa diri paling berdosa, aku tak pernah menganggap doaku langsung sampai ke telinga Tuhan. Paling tidak atas ketaklayakanku mengharap sesuatu, pesan itu disimpan dulu oleh malaikat dan entah disampaikan pada Tuhan beberapa saat kemudian. Tapi itulah, buku komunikasi bathin ini mengingatkanku pada doa. Katanya, yang perlu kaulakukan adalah menyebut nama kekasihmu secara berulang,nanti getaran suaramu akan sampai juga pada orang yang kautuju. Ini hal yang penting, pikirku.

Aku memang suka praktek menyebut nama kekasihku dalam hati, sebelum akhirnya kami bertemu hari kemarin. Biasanya, penyebutan nama ini akan berefek langsung hari itu juga, malam itu juga. Tapi kemarin ini tak biasa. Kami bertemu di sebuah kedai susu di tengah kota kami. Kedai yang tak lekang dimakan zaman sejak masa kami pacaran. Di sana muda-mudi biasa beradu pikir. Wajahnya masih sama, lesung pipi dan bibirnya yang menyenangkan juga tetap tinggal. Aku ada di antara rasa-rasa semrawut, buncah, tak karuan. Setelah tiga puluh tahun aku cuma menghubunginya lewat bathin.


Kekasihku mirip angsa yang sedang angrem. Sendirian saja bersama kehamilannya yang tua. Aku memberanikan diri menyapanya. “ Kau tahu, wajahmu banyak berubah setelah tiga puluh tahun.” Aku basa-basi membuka percakapan sambil memandang matanya jauh ke dalam, seakan-akan tiga puluh tahun di antara kami hanyalah peristiwa barusan. Peristiwa barusan, di mana kami masih sama-sama mendidih untuk berebut siapa yang paling berhak menyebut dirinya lebih cinta. Tapi coba pikirkanlah, setahun berlalu begitu cepat. Melesat sangat singkat. Dari jam ke jam, malam ke malam, minggu ke minggu. Bukankah tiga puluh tahun hanyalah kemarin yang terjadi selama tiga puluh kali?


“ Kau masih saja tak sopan seperti dulu.” Ia membalas pembukaanku dengan suara lirihnya yang khas. Ia adalah perpaduan Sala-Yogya yang meledak-ledak sekaligus halus. Ingin diakui sekaligus tak ingin pamer. Aku mafhum, keluarganya memang berasal dari Klaten. Kami berbincang di meja kecil setelah obrolan kami tadi. Belakangan kutahu anaknya sudah tiga, dan ini adalah kehamilannya yang keempat. Suaminya seorang insinyur yang jarang pulang tapi gemar menabung benih di tubuh mantan kekasihku ini, lumayan brengsek, pikirku. Untuk menjadi suami yang baik, kau cuma perlu bekerja.Lagian, siapa mau diberi makan cinta?


Ia kubiarkan tak tahu soal hidupku. Di umur tua belum menikah sebab takut mencintai orang yang salah. Aku nyaris masuk vihara dan menjadi petapa. Supaya aku bisa lupa segala hal yang membuatku sedih dan menangis, tapi percuma. Kukira, aku tak perlu lagi terasing dan mengurung diri untuk melupakan sesuatu. Aku cuma sulit memaafkan diriku dan dirinya yang ketika itu tak buru-buru berusaha bertahan. Bertahan dari segala hal yang masih tinggal.


“ Apa kau masih merasa tiga puluh tahun lalu begitu dekat?” pertanyaan ini secara cepat keluar dari bibirnya yang masih lekat di kenanganku tiap waktu. “ Sejak undangan pernikahanmu dan foto-foto manis di dalamnya, aku ragu untuk menjawab: ya. “ Aku tak mudah melupakan hari yang mungkin adalah hari paling bahagia baginya itu. Aku seperti tersambar pohon cemara yang tinggi ketika undangan itu sampai di kolong pintu depan kontrakanku yang mungil. Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa manusia bisa berubah, termasuk caranya memandang kebahagiaan.


“ Kau sendiri yang bilang kalau manusia berubah, ia dinamis,” mantan kekasihku terus menodongku dengan ucapan-ucapanku di malam perpisahan kami.
“ Kau tahu, ketika kaki kita menginjak bibir pantai, ombak itu seakan-akan menyeret kita. Menipu kita seakan-akan kita bergerak. Seakan-akan kita ada di atas kapal yang akan membawa kita berlabuh di sebuah pulau kecil yang mengharukan untuk kita tinggal. Pada kenyataannya kaki kita tetap menginjak pasir pantai dan ombak itu terus bergantian menyapu-nyapu tungkai kaki kita yang tertipu. Kau tentu tahu.” Aku membalas interogasinya yang semena-mena dengan sekenanya. Menurutku kita bisa berubah, tapi mentok di situ-situ saja. Bukan omong kosong. Aku telah pergi mencari perempuan dari yang tak cukup cantik sampai yang bisa membuatmu kejang, dari perempuan biasa hingga yang membuatmu mesti membayar. Dari segalanya itu, aku tak bisa melupakan satu nama. Satu nama itu terus menetap di hatiku, nyaris seperti benalu. Menghabiskan waktuku sebagai penulis untuk menuliskan detil-detil di waktu silam, mengantarkanku pada sembab sembilu yang jarang pergi, dan kesedihan yang susah padam.


Tentu kau akan merasa bahwa tulisan ini kubumbui dengan metafor tak penting, atau retorika yang kira-kira membawamu pada kesedihan juga. Kau salah, ini serius sekali. Kekasihku adalah perempuan pertama yang membuatku menerima takdirku sebagai pria tanpa istri. Tanpa pendamping yang mungkin bisa menemanimu baca koran, makan siang, atau sekedar minum kopi sambil menunggu waktu maghrib.


Ia memesan kopi aceh yang pekat dan meriah. Ia menyeduhnya pelan dengan kosong, seperti ingin keluar menentang mataku yang daritadi tak bisa pindah. Aku memang terus melihat wajahnya. Berharap aku bisa membaca berita-berita terbaru lewat wajahnya. Apakah ia sedang bahagia, sedang sedih, anaknya yang pertama sekolah di mana, bagaimana suaminya, baikkah ia, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Kau tahu, cinta itu tak datang begitu tiba-tiba. Kecuali kau menemukannya lagi, kau berhutang pada kenangan. Lagipula, waktu merupakan sekumpulan peristiwa yang lewat cepat dan menenggelamkanmu pada kecemasan yang sesat. Tapi aku bukan tipe orang yang akan menuntut cinta sepanjang malam. Aku bukan anjing yang setia kembali meski tuannya gila. Aku telah berulang mengatakan perasaan-perasaan ganjil ini, tapi ia tak bergeming. Menurutku, ia sudah buta pada segala cinta di antara kami.


Semoga akhirnya kaubisa membayangkan, seberapa sulit beranjak dari mata kekasihku. Sepasang mata yang gelisah menahan sesuatu. Kupandang terus hari itu. Sampai matanya tertutup rapat, begitu primpen, begitu gelap. Dalam sejam ia jadi patung yang terbentuk secara sumir. Di warung susu ia jadi manekin paling cantik untuk iklan susu hamil. Dan diriku, seperti banyak orang tahu, masih jadi orang gila yang menghabiskan sisa hidupnya untuk kesia-siaan yang tak banyak orang tahu. Aku tak tahu lagi berapa umurku, apalagi cara mengukur satuan waktu. Seperti anjing di sampingku ini, setia, gila.


Jogja, 29 Agustus 2013


Ilustrasi: Labdo Grahito

Selasa, 16 Juli 2013

Tentang Santa Caecilia

Tentang Santa Caecilia


Sebelum hari ini aku tak
Pernah tahu kisah di balik namamu
Nama yang rapih, pipih, manis, tapi
Masih sempat tersenyum getir


Santa Caecilia adalah kaki-kaki Gunung Slamet
Meniup bunga-bunga matahari sampai
Jauh ke dalam hutan
Bersembunyi seperti anak kecil
Di semak-semak pohon perdu
Memejal rindu dan menyimpannya
Lamat-lamat, diam-diam teramat
Di saku celana kiri


Akulah anak kecil itu, Santa Caecilia.
Yang menghindar dari namamu
Mencari Tuhan di semak berduri
Dan byuh…
Meniup doa dalam sekali kedip mata
Membawakannya di lilin-lilin kamar
Lalu menyita waktumu
Dalam angan-angan. Amin



2013

Minggu, 07 Juli 2013

Sajak Kecil Untuk Lowell

Sajak Kecil Untuk Lowell


Lowell begitu merdu menjelang maghrib
aku berlutut di adzan kecil. Di balik jendela
meletakkan rinduku di tanaman Lombok
merantasinya dengan sambal yang mengingatkanku
pada rumah dan bau tangan ibu


Lowell, seperti kota kecil lainnya..
ingatan berlarian di mana-mana
mencumbu risau hati pada senja
yang kudus dan meletup-letup


Perantau tak pernah berhutang
pada tempat mereka tinggal
tapi tiada pernah habis
membayar bahagia, sedih
dan perjalanan mahal
dari pohon kersen ke cemara hujan


Di antara perjalanan itu ada tangis, getir
kangen,  pasrah, penerimaan
dan banyak kecemasan yang
tak rampung dipintal
tapi berhasil dikemas sederhana dalam
cerita-cerita di meja makan


Langit Lowell ialah langit
yang memaksamu
tumbuh



2013


Foto: Dokumen Pribadi